Minggu, 06 Juli 2025

Hai... Kamu lagi

 Hai.. 

Sedang apa? 


Aku yakin kamu gak akan jawab, 

Bahkan... Tahu pun tidak.. 

Seperti biasa dan sebelumnya

Hanya ada aku dan imajiku


Seperti biasa dan sebelumnya.. 


Kenapa kamu masih diam disitu.. 

Memandang dengan mata kosongmu

Mengikat memori dan tak membiarkan ku pergi


Aku ingin bahagia

Tanpa perlu lagi menulis bahwa kamu pernah ada

Tapi sejujurnya.. Aku ingin kamu tahu, aku bahagia.. 


Aku ingin kita, seperti apa kita, dimana kita, mengapa kita, berjuta kita,.. 

Ada jawabannya..


Jumat, 04 Desember 2020

hai

 hi kamu

lama tak bertemu..

apa kabar?

sibuk ya, sama sepertiku

kulihat kau bahagia...

aku turut senang


kita hampir sama meski tak serupa

tapi kita bisa jauh berbeda, tak ada yang tahu..

kau jauh tapi aku dekat

kau tak peduli tapi aku selalu mengerti...

...

ah

semoga kau tetap baik-baik saja

Jumat, 27 Januari 2017

Nice Home Work 1. Adab Mencari Ilmu

Mamah mencoba waras, biar ga salah langkah dalam mengasuh n mengasihi para penerus generasi yang sholeh dan bageuurrrnya tak terkira
Caranya dengan ikut komunitas yang mengurusi hal tersebut. namanya Institut Ibu Profesional. Jangan bayangin isinya emak2 cakep pake jas high heels nenteng tas n laptop turun dari mobil terus jalan ke gedung kantor yak. Tapi, inilah sebenarnya emak2. Yang kerjanya 24 jam nonstop, tanpa libur, tanpa gaji, tidur paling akhir, bangun paling awal,  kadang malah lupa mandi n lupa makan (itu sih gw doang kayaknya ).
Pokoknya isinya adalah emak2 yang berusaha mengabdikan dirinya untuk keluarga se-profesional mungkin. Yang seujung kukunya aja belum terpenuhi oleh saya. Maka dari itu saya belajar dengan mereka. Dannn.. tadaaa.. inilah Peer nyaa:

NICE HOMEWORK #1

ADAB MENUNTUT ILMU

Bunda dan calon bunda peserta matrikulasi Ibu Profesional Batch #3, kini sampailah kita pada tahap menguatkan ilmu yang kita dapatkan kemarin, dalam bentuk tugas.

Tugas ini kita namakan NICE HOMEWORK dan disingkat menjadi NHW.

Dalam materi "ADAB MENUNTUT ILMU" kali ini, NHW nya adalah sbb:
1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.
- Ilmu parenting

2.Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.
- Karena ibu adalah madrasah pertama bagi anak2nya

3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?
- Belajar ilmu parenting dr berbagai media
- Mengikuti komunitas parenting, seperti contohnya IIP ini.
- Aktif berdiskusi / bertanya dalam majelis ilmu
- Menyimpan materi dengan cara yg paling mudah dan serapi mungkin agar selanjutnya mudah dalam membacanya kembali
- MENERAPKAN ilmu yang telah didapatkan sesegera mungkin. Dan tidak saklek atau lekas putus asa ketika ada kendala dalam menerapkan ilmu yg didapat. Nobody's perfect!

4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu,perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.
-Tidak malas atau menunda2
-Buat banyak reminder agar tidak lekas lupa
-Beri tahu orang terdekat hal2 yang ingin dicapai bersama, agar ketika hampir putus asa ada yang mengingatkan / menguatkan
-ingat sabar dan sholat adalah senjata utama

Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah dengan cara-cara yang mulia

Salam Ibu Profesional,
.
.
.
.
Salam emak2 rempong dari mamah

Postingan selanjutnya Insya Allah saya share materinya juga ya.. biar agak bermanfaat juga ini blog kalo ada yang  baca.. hehhee

Selasa, 05 Agustus 2014

Aku minta satu saja..

Tahukan kau..
Apa yang benar-benar kuperlukan di setiap harinya?
Tak banyak..
Pelukan
Hangat sentuhan
Belaian
Ucapan selamat pagi..

 Sesibuk apakah kau dalam bentengmu
Hingga tak sempat beri aku salah satunya

 Ya Salah satu saja :')

Senin, 17 Oktober 2011

Berita Kehilangan

Sepotong jiwa yang pernah kutitipkan..
Ia pergi tanpa kusadari
Ia khianat dibalik setianya
Ia menusuk dibalik belaiannya
Ia jatuh pada ketinggiannya
Ia hancur dalam kekokohannya
Ia tertawa diatas kesakitannya
Ia diam dalam histerianya
Ia melepas saat peluknya

Ia menari dalam hujan, bercumbu pada angin malam, tapi hancur...
Lalu aku apa saat itu..
Hanya dahan baginya, untuk jatuh, dinding baginya, untuk bersandar..
Aku bukan apa-apa
Tapi sakit ini, kuasa membuatku kehilangan semua..

Sepotong jiwa yang pernah kutemukan lalu tumbuh bersama cinta, kini patah..bersama hancurnya..
dan kita mati...

Senin, 05 September 2011

datang dan tiada


riuh itu kembali datang..
dalam wangi bunga, dalam romansa asmara..
menyibak pagi dingin, meluruhkan kabut di udara..
menggugurkan dedaun kering, mengindahkan jalanan..
mengisap debu di tengah kota yang sesak..
mengecup manis langit yang menaungi lautan kata..
tapi ia mencekat
tapi ia menjerat...
tapi,
kosong ini tetap tak beranjak
ia semakin tak bergerak
baik seinci, bahkan sedepa
ia tetap menjadi ruang yang menganga
ia sediakan udara untuk tertawa saat luka, untuk menangis saat bahagia
ia hadirkan malam ketika siang menjejak penat dalam jiwa
ia tetap berdebu, untuk gantikan air membasuh raga
ia tetap menunggu..

kosong ini masih rindu pada peri
peri-peri imaji yang setia menemani, kala gelap, kala matahari enggan menetap
ia tetap rindu pada hujan..
yang rintiknya menantang, yang derasnya menghujam
ia tetap (kembali) ingin menepi...
pada sudut yang tertinggal.. pada jarak yang lengang..

keriuhan yang tak berjeda..
bahkan untuk sekadar menghela napas
ia bertubi, menghajar hingga habis kenangan..
dan meninggalkan beribu jejak hanya pada satu jengkal langkah
dan menghempas haru yang tersedak..hingga gagal melepas lelah

hingga tak mengerti apa yang salah
dan dimana yang benar
ia begitu kelabu, dibalik warna pelangi yang terpantul saat cahaya menyapa
tapi jatuh terduduk saat mimpi terbang tinggi
hingga lemas limbung ketika cerita berkata
sekali lagi, ia tak mengerti
dimana yang salah
dan apa yang benar..

yang ia tahu...
ia hanya sedang berjalan di sesaknya jalanan
dalam pesona manusia berjejalan..
meraup mimpi, berpesta emosi
ia hanya mencoba bertahan
pada teriakan yang menggoda dan bisikan pemuja
ia mencoba hapuskan getir saat melangkah..
ia terpejam..
ia tak mendengar..
ia merasa..
hanya merasa..
dan mencoba bicara saat bungkam menyesakkan..

meski lagi-lagi tak pernah terjawab
apa yang salah dan dimana yang benar
mungkin harusnya hanya tak ada..
hingga tanya tiada,.

ah.

Minggu, 26 Juni 2011

to kill 'the moon'


malam ini bulan berkhianat lagi..untuk kesejuta kalinya..
ia mengrupa wajah serigala berbulu domba, berhati manis menutup prasangka..
tapi siapa kira, saya punya sejuta alasan untuk bertahan dengan bisik2 sang bintang..
sejuta alasan yang kadang terkikis air hujan pengasihan..
sejuta alasan yang kadang hilang tak berbekas ketika kenangan kembali berputar, dan hanya keindahannya yang tebayang..
sejuta alasan yang kadang terpotong mimpi manis semalam, dan ucapan busuk berbalut harum semanis madu..

sebab,
saya bukan pemuja malam yang bisa setia padamu,..
saya bukan penanti gelap yang rela menunggumu.. untuk kembali mencabik gulitaku..
saya juga bukan pendengar yang baik untuk semua pujian-pujian konyolmu..
saya masih punya yang lain, ingat!!, berjuta penghuni malam yang siap mengawasi gerik lincahmu yang licik..
saya akan benar-benar mendengarkan mereka,. karena mereka tak bodoh, karena mereka tak pernah berpura-pura, karena mereka tak ambil manfaat saja..

dan bersyukur, saya punya mereka yang menghargai ketulusan, bukan dengan diam dan berpura-pura..
mereka yang gelap tapi begitu hangat, mereka yang kelam tapi menenangkan, mereka yang pahit tapi menyehatkan..
karena saya mulai muak dengan segala yang manis tapi siap menggiring pada kehancuran..
juga pada bulan yang sinarnya genit tapi siap membutakan...
saya muak, hooy!!!

maka dari itu, bulan manissss... kembalilah ke alammu..!!!


dan beristirahatlah dalam damai...-_-

picture from here

Minggu, 05 Juni 2011

berhenti bermain

sementara dering telepon mengganggu.. seperti kenanganmu yang terus saja berputar di kepalaku..
pada sebuah dunia yang kuciptakan sejak kau datang, disana aku menaruhmu, disana aku memberimu hidup, disana kita membagi hati dan hari-hari..
entah mengapa kau selalu bilang: lari dan menarilah sendiri..
kau tak pernah tahu, selalu menyakitkan ketika mendapati jejak kaki sendiri, ketika yang kuikuti hanya langkah-langkah lemah dari kaki yang tak kunjung kuat sejak kau menetap dan bilang ingin pergi cepat..
aku meluruh, dan tak sanggup hapus jejak itu..

memang, selalu ada genggam tangan dan telinga yang ingin selalu mendengar..
sayangnya, aku selalu menyimpannya sendiri..
aku hanya ingin berbagi ini dalam dunia yang kuciptakan, bersamamu..
ya, aku egois, dan kamu arogan..
aku tuli, ketika berjuta teriakan datang bersama petir yang menggelegar..
teriakan yang menginginkan aku pergi, membunuh sosokmu, menyebabkan kau mati sesak kehabisan energi untuk memberiku hidup..
mereka tak tahu, bahwa hanya aku yang sesak, lalu mati..
sementara kau melenggang pergi, memunggungiku, kembali pada Bumi yang memelihara hatimu jauh sebelum aku..

dan aku di sini yang koyak, tetap memelihara sosokmu yang tertinggal..
masih kusuapi kau dengan sisa-sisa tenaga, sementara aku terus luruh dan habis..
masih kutawari kau dengan air mineral sisa kenangan yang sumbernya kita gali bersama.. yang mungkin kini kau sudah lupa dimana letaknya..
masih kukeringkan rambutmu yang kuyup kehujanan di jalan, dengan sehelai kain yang kurajut malam sebelumnya.. yang mungkin hanya kau anggap kain lusuh yang sudah lama tertumpuk dalam lemariku yang lembab..
hah.. masih juga sisamu yang tertinggal itu mengerjaiku, padahal tenagaku sudah habis meski hanya untuk menjawab salammu..

aku lelah, dan ingin istirahat..
jadi tolong, jangan menyuruhku pergi, kecuali kau memberiku sedikit energi..
tapi tidak kan?
jadi ya sudah, aku ingin tidur saja...
sementara kau pergi, lalu ketika bangun, aku sudah lupa..dan..
semua sudah berbeda.

Selasa, 10 Mei 2011

kamu tahu


kamu tahu...

entah semua yang berputar dalam roda hidup ini perlahan merasuki alam bawah sadar, kemudian menetap, dan diam-diam bersembunyi di suatu tempat..
ketika semua meredup gelap, ketika asap mulai halangi pandangan dan menyesakan udara, ketika malam kutentang marah, ketika ingin rasanya menaruh barang sejenak isi kepala dalam setoples berisi air lalu melarungnya ke dasar laut.
entah bagaimana, perlahan ia keluar dari persembunyian, entah kenapa, ia datang tak bilang-bilang..
aku juga tak sadar sejak kapan ia mulai mengetuk pintu, aku mulai lupa kapan pertama kali melihat batang hidungmu, hanya memori yang sempat kutangkap malam itu adalah kedua kalinya aku memandangmu, ketika dengan pasti kutebak bahwa kau lah yang pada tempo hari dalam riuh jalanan kucatat sesosok dalam ingatan. ketika aku berhasil menghapusnya barang beberapa menit dari ingatan..

lalu belasan bulan setelah itu..

kamu tahu...

aku dikagetkan oleh sebuah penemuan akal atas nama ingatan diri, ya, berbulan sebelum malam itu, ada sesosok lain yang tak permisi memasuki pikiran lalu terlupakan begitu saja, sesosok itu hadir kembali, dan kini, ia ada dalam dirimu..
aku tak tahu..
hanya takjub, karena ini diluar kesadaranku, atau memang hanya permainan memori yang tak sengaja kusimpan, lalu meluap ketika menemukan sosokmu..

yah, aku hanya bodoh, baru menyadarinya kali ini..haha

ah, kamu tidak akan tahu...

Sabtu, 02 April 2011

salam positif! :)

Sebenarnya, banyak yang ingin saya tulis, banyak yang ingin saya bagi. Tiga puluh satu hari kemarin banyak hal yang bikin emosi naik turun. Baik hal-hal yang benar-benar terjadi (realita) atau yang cuma numpang eksis di pikiran.

Semua masalah bersumber dari pikiran. Itu yang saya rasakan belakangan ini. Kalau mau dikupas tuntas sebenarnya cuma kosong, tanpa isi. Cuma kulit keras, berduri, tapi pas dibelah, kita hanya bisa mengeluh karena mendapatkan isinya kosong. Lalu sedetik kemudian saya sadar, bahwa sesuatu yang sedang dibelah itu ternyata juga tidak ada, semua cuma rekayasa pikiran saja.

Pikiran. You are what you think you are. Allah sesuai dengan prasangka hambaNya. Ketika menilai diri kita, apa yang terjadi di sekitar, ketika kita menilai semuanya dibawah koordinat angka nol atau NEGATIF, maka yang terjadi pun akan semakin negatif. Ibarat bola salju, semua perlahan masuk ke alam bawah sadar lalu mempengaruhi tingkah laku kita. Pikiran negatif menghasilkan tingkah laku negatif. Tingkah laku negatif mendatangkan reaksi negatif, kemudian timbul pikiran negatif baru, dan begitu seterusnya. Kita semakin terjebak dalam kumparan negatif dan terbelit dalam arus kenegatifan. Hidup terasa semakin sesak, dan kita terlambat sadar bahwa kita telah sia-sia selama itu.

Kita, atau mungkin hanya saya, kadang berpikir, negatif itu wajar, ia menyeimbangkan. Tapi kenyataannya, ia selalu ingin menang. Ia lebih sering merusak dan menggerus seluruh hal positif dalam hidup yang meskipun kecil tapi wajib disyukuri. Hingga pada akhir perlawanan, kita (atau hanya saya) baru sadar bahwa kita (saya) telah lalai, lalai, dan lalai. Sudah jatuh tertimpa tangga plus ketiban kulit duren busuk. Sudah kalah berdosa pula karena telah lalai bersyukur plus kehilangan kesempatan menghargai kehidupan. Oh Tuhan, jauhkan dan lindungi saya dari keadaan itu.

Saya juga pernah mendengar bahwa negatif itu sebaiknya tidak dipendam. Salurkan ia menjadi positif. Tapi saya tak terlalu paham, juga tak mengerti benar caranya. Disini, saya hanya ingin membagi isi pikiran saya tentang kenegatifan yang (mudah-mudahan) bisa semakin mengurangi kadarnya sampai benar-benar habis tak bersisa. Semoga. Hanya itu. :)

Maka, berpuluh ide dan gambaran tentang hari kemarin yang sebenarnya ingin sekali saya bagi itu, akhirnya cukup tersampaikan maksudnya bersama dengan tulisan ini. Yup, sudah cukup sebenarnya. Dan semoga pikiran positif saya akan usaha meluruhkan kenegatifan dengan cara seperti ini bisa berhasil dengan baik, tidaklah sia-sia.

Segera senyum, tarik nafas lalu buang perlahan..

Salam positif (kembali)! ;D

Jumat, 11 Maret 2011

terlambat

Kita, selalu diajari untuk meratap ketika kedukaan menyergap. Semua, entah cerita, berita, atau khayalan sekalipun. Akibatnya, kita seringkali gagap saat menghadapi kenyataan. Akal kita menjadi tumpul, apalagi untuk mencari solusi. Sampai akhirnya kita sadar bahwa semua sudah terlambat. Lalu penyesalan, selalu menjadi akhir yang menjelma sebagai momok menakutkan.

Manusia, cenderung bangga dengan kesengsaraannya. Ia menikmati ketika dipahami bahwa hidup boleh sejenak ditangisi. Ia menjadi lalai akan kenyataan bahwa sudah menunggu kedukaan yang jauh lebih besar, dan ia belum siap benar. Lalu siklus kehidupan yang membelenggu terus menerus menariknya masuk kumparan kesedihan dan penderitaan. Hingga tiba pada satu titik kulminasi yang membuatnya menyadari bahwa hidup terlalu singkat, dan ia, selalu terlambat !

#terinspirasi dari drama televisi a.k.a sinetron yang senantiasa mengajak kita untuk menangis, menangis, dan menangis,. -_-'

Selasa, 08 Maret 2011

imaji

pergilah, dan carilah.. kembalilah berimaji tentang cicit burung, tentang desau angin sore yang berbisik lembut, tentang pelangi yang warnanya berasal dari mimpi-mimpi yang dulu bersembunyi, tentang genggam erat kawan seperjalanan, tentang gemericik air parit yang di dalamnya berenang-renang ikan berwarna-warni..

ceriakan ia, warnai ia, seperti dulu, ketika kau berkarib dengannya, ketika kalian begitu sejalan, ketika musuh di hadapan tak mampu melepas erat genggaman, ketika matahari masih hangat, ketika bulan masih menjadi teman, ketika gelap tak beri ketakutan, ketika bintang masih genit padamu, ketika awan masih memayungi langkahmu, ketika petir beri nyanyian pada langit sore hari..

ketika semua masih menjadi sederhana..

kembalikan imaji yang dulu sempat pergi, atas dasar langkahmu mencari jati pada diri, ia pergi dan tak lagi bisa menghibur hati..

kembalikan semua kenangan kami, kembalilah bermain dalam mimpi, kembalilah membuatku menyendiri dan bahagia, kembalilah seperti ketika kita masih bisa bercumbu dengan angin siang dalam terik matahari yang membakar ubun-ubun, kembalilah ceria, kembalilah berwarna...

kembalilah, imaji..

Kamis, 17 Februari 2011

untuk mereka

kemarin, ketika idealisme masa muda masih segar-segarnya, hidup melanglang buana menyicipi indah dunia masih begitu diimpi-impikan, pembuktian akan diri yang bisa berada disana-sini, aktif mengikuti itu ini, muda, bergelora, semangat membara buktikan eksistensi diri, kemarin, itu kemarin.


sekarang, kenyataan berada di hadapan. coba lihat ke bawah sebentar. hey, banyak yang tak seberuntung dirimu, bisa isi perut sehari sekali saja masih untung, bisa sekolah barang beberapa jam sehari sambil kerja banting tulang sudah sangat bagus, bisa bermain sehabis mandi sore juga sudah sangat senang. ah, kupikir, apa yang kuharap bisa kusombongkan kemarin itu, menjadi tak berarti apa-apa saat melihat mereka.


ada yang lebih penting, ada yang lebih membutuhkan, dan ada yang lebih berarti dari segala mimpi masa muda akan dunia. mimpi-mimpi itu, anggap saja bonus, taruh saja diurutan paling akhir dari daftar panjang keinginan. sekarang, mumpung umur masih mengizinkan, cobalah, geser sedikit kursi antrian menuju mimpimu, pilih untuk mereka, bukan untuk kita, apalagi untuk diri sendiri.


semoga bukan semangat sepintas lalu, semoga bukan karena terbawa keadaan, semoga istiqomah akan usaha mencapainya, dan semoga, bisa amanah menjalankannya kelak. amiin..-_-



april, TUNGGU SAYA..!!! X)

Rabu, 02 Februari 2011

cinta di dalam gelas

dan kopi itu adalah cinta di dalam gelas #andreahirata

ini cuma satu harapan dari berjuta mimpiku untuk bersamamu...

ketika kau dengan pandainya menyeduhkanku kopi terenak di dunia, sehingga membuatku jatuh cinta untuk kesekian kalinya, padamu, pada kopimu...

ketika aku tak perlu banyak mengucap terima kasih, ketika kau hanya butuh senyuman termanisku untuk sebuah kopi termanismu...dan cinta, ada di dalamnya..
.
ketika tak peduli kau suka atau tidak, pada kopiku, pada kegilaanku akan kopi, kau tetap setia membuatkannya untukku pada tengah malam disaat aku harus tetap terjaga..

ketika kau bilang, tak sudi jika aku mencoba kopi buatan yang lain, karena khawatir aku malah jatuh cinta (lagi) pada kopi itu, pada pembuatnya..
ah, lucu sekali, urusan kopi, aku bisa memuji ribuan pembuatnya, tapi tidak dengan cinta..

aku hanya akan jatuh cinta kepada sang pembuat kopi ditengah malam saat mataku tak boleh terpejam, yang kopi cinta buatannya hanya untukku..

aih, secangkir kopi, dimana pahit dan manis bersatu di dalamnya, dan itulah cinta..:D

Kamis, 04 November 2010

PAGI YANG KUCATAT

Pagi ini, di jumat yang mendung, tepat pukul 6.41 waktu rumahku. Aku mencatat.

Tentang pagi yang mencekam. Tentang tivi yang kunyalakan. Tentang berita yang menyampaikan kedukaan, kepanikan, kecemasan. Tentang pagi yang mencekam. Tentang iklan-iklan yang mengganti pemandangan menjadi begitu menyenangkan, menceriakan. Seperti tak mengikuti perkembangan berita pagi, mereka, asyik memamerkan putih wajah mereka, asyik mempromosikan rbt lagu yang sekiranya tak akan laku dijual sekalipun bajakan di emperan, mereka asyik menari-nari, meloncat-loncat, berteriak-teriak hanya karena kelezatan sebuah produk makanan, orang gila!

Lihat, berita pagi kembali.



Berita pagi menyampaikan, di tengah lelapku semalam, jauh di merapi sana, gemuruh kembali, gempa menyapa lagi, mereka tak sempat lari. Aku tak kenal itu si awan panas, tapi, namanya berulang kali disebut seminggu terakhir ini. Dan katanya, ia jahat. Ada juga yang menyebutnya "wedhus gembel", huss...! jangan disebut!. Kata siapa pula aku lupa, jangan sebut-sebut nama itu, cukup panggil si awan panas. Si awan panas mungkin jahat, datang gak bilang-bilang, tahu-tahu nyawa menghilang. Tapi, ia hanya menjalankan tugas, tugas yang dititahkan merapi. Ia memegang janji untuk setia pada merapi, setia pada apapun yang merapi kehendaki, sekalipun hanya sebagai 'muntahan merapi'. Sekalipun tak digaji. Mungkin ia sudah berjanji pada Tuhan, sebelum ia dilahirkan. Mungkin seperti manusia. Mungkin sama seperti si mbah, si pemegang kunci Merapi. Aku harap, semoga si mbah berjanji atas nama Tuhan, bukan atas nama keraton. Karena sampai akhir hayatnya menjaga merapi, yang aku tahu, gajinya cuma Rp. 80.000,- sebulan. Delapan puluh ribu sebulan untuk nyawa sebagai taruhan. Dan mungkin, sebagai imbalan, Tuhan jadikan ia bersujud saat berpulang.



Cukup untuk si awan panas. Sekarang, mari kita lihat para korbannya. Hari pertama ia beraksi, 30 nyawa melayang. Hari selanjutnya, belasan terluka. Dan mungkin, kini jumlah yang mati sudah bertambah. Aku tak hapal benar. Aku bukan si pencatat berita. Radius wilayah aman, satu hari saja, 10 km bertambah. Pengungsi diungsikan, pengungsi membludak. Dapur umum kekurangan juru masak, mengundang tangis pak camat. Pagi ini, dari berita yang kudapat dari akun jejaring sosial yang lain, mereka kelaparan, mereka butuh sarapan. Mereka butuh pakaian, air bersih, perlengkapan khusus wanita, susu bayi, makanan bayi, obat-obatan, masker, juga hiburan. Mereka butuh aksiku, bukan sekadar simpatiku. Mereka butuh aksi para mahasiswa yang gemar berdemo. Cobalah, ganti demo di depan istana menjadi demo masak di dapur umum. Tolonglah, wahai para mahasiswa.



Berita pagi juga menyampaikan, ada abu vulkanik yang menyapu daerah Pangalengan. Hah, Pangalengan!. Gunung mana lagi yang meletus? Papandayan?. Bukan. Kata si pembawa berita, itu abu vulkanik dari merapi. Hey, jauh sekali. Ah, aku tak hapal peta. Jadi, tak tahu benar posisi merapi dimana. Tak tahu garis pegunungan aktif itu melewati daerah mana saja. Ah, aku takjub saja. Tapi tak aneh juga. Kata ibu, kakek nenek, para orang tua, dulu, abu vulkanik sampai menyelimuti seluruh jawa bagian tengah saat merapi merekah. Dan itu, korban sampai ribuan jiwa, dan itu, yang kulihat dari video yang beberapa hari terakhir ini sering diputar di tivi, lahar dan lava pijar sampai muncrat. Mencekam. Aku seperti sedang menonton film, yang kuingat judulnya Dante's Peak, film tentang gunung meletus juga. Yah, mencekam. Kematian menari-nari di depan. Awan panas, lahar, mengejar di belakang.



Berita pagi juga menyampaikan, awan panas mulai turun dari Semeru. Gunung yang beberapa waktu lalu sempat kulihat dari puncak Bromo. Mereka berdua, dua sejoli itu, sama-sama sudah berstatus waspada.



Berita pagi juga bilang, perahu nelayan banyak yang rusak akibat diterjang gelombang setinggi 3 meter di perairan Carita, Banten. Itu akibat aksi si Anak Krakatau. Gempa vulkanik yang terus menerus, sampai ratusan kali setiap hari, menggoncang laut pasti. Ah, apakah status si anak krakatau sekarang? Sudah siagakah? Hey, Banten dan sekitarnya, berhati-hatilah. Jangan sombong. Jangan merasa lebih mengenal alam daripada Tuhan. Kalau diminta pergi, ya pergi, mengungsi, ya mengungsi.



Ada apalagi di berita pagi. Ah ya, Mentawai. Bagaimana kabar disana? Cuaca masih buruk. Samudera Hindia masih tak bersahabat. Akibatnya, bantuan dan relawan kembali tak bisa berlayar. Luka para korban sudah pada membusuk. Apalagi mayat-mayat yang belum juga ditemukan. Sudah tak karuan. Dengar kabar kemarin, para relawan terkendala koordinasi, birokrasi, kurang nasi, bla..bla..bla.. ah.. Dengan kabar kemarin juga, Gubernur Sumatera Barat terbang melenggang ke Jerman, tanpa mengantongi izin dari presiden. Aih, iri sekali aku padanya. Jerman, uy. Aku pingin sekali kesana. Tapi, hey. Anak-anakmu disini sedang kelaparan, pak! Sanak saudara mereka tak jelas nasibnya. Masih bernafaskah, atau sudah dimakan belatung di tengah hutan. Mereka tidur tak beralas, pak! Tulang mereka yang patah belum juga diamputasi, bapak malah enak-enakan bersafari. Pak..pak.. Bapak dari partai mana kalau saya boleh tahu? Apa. Ouch..! Jawaban bapak menampar muka saya, menohok hati saya, menghujam jantung saya. Ah, bapak. Saya mestinya malu, atau, bersyukur karena tak lagi bermain-main dengan golongan itu, partai itu. Ah, pak. Cari kebenaran mah dari mana saja ya, pak. Gak perlu menganggap diri paling benar. Pak, pulang donk, pak..!



Ah, berita apalagi yang menambah cekam pagi ini.

Bukan berita mungkin. Lebih kepada, ketidakberdayaanku melihat ini semua. Begitu mencekam, ketika yang kutahu aku hanya bisa menulis ini. Ketika yang kutahu, aku tak mungkin berada disana. Di Mentawai, di Jogja. Kalau sekadar ingin, sudah dari kemarin-kemarin. Tapi, seseorang yang terpanggil hatinya untuk membantu korban bencana juga perlu memperhitungkan segala sesuatunya. Kita bisa apa, apa yang kita bisa. Dan, bagaimana orang-orang sekitar kita bisa merelakan dan percaya akan kepergian kita, mereka percaya atau tidak, bahwa kita bisa meringankan beban para korban, atau malah sebaliknya. Bukan sekadar keinginan, sekehendak hati menjadi relawan. Salah-salah, kita malah bergabung dengan para korban, ikut menjadi korban.



Yah, inilah pagi yang kucatat. Yang sebenarnya, ingin dari kemarin-kemarin kutumpahkan ini semua, pada kalian, yang sudi membaca. Sekadar berbagi perih. Supaya terasa tidak terlalu perih. Melihat. Mendengar. Menyaksikan. Bencana demi bencana yang sepertinya sudah menganggap kita, Indonesia, sebagai karib mereka. Mereka memilih, mereka memutuskan, inilah tempat yang paling asyik untuk beraksi, entah atas dasar apa. Entah karena Tuhan sedang menguji, entah karena Tuhan sedang murka, entah karena kita senang merusak alam. Entah karena banyak yang korupsi, uang yang seharusnya milik rakyat dikantongi sendiri, jadinya, bencana datang, dan akhirnya, uang-uang itu kembali ke tangan rakyat yang bernama korban. Entah karena kita lupa bersyukur, atau, entah karena ini memang sudah jalannya.



Maka, biarlah. Aku meratapi semua dengan cara ini.

Dengan cara mencatat sebuah pagi.



Cibinong, 5 November 2010.

Selesai pada pukul 8.10 pagi.

Rabu, 03 November 2010

hujan tak lagi datang

beberapa hari ini hujan tak datang...

mungkin itu yang membuat kenanganmu tak lagi mencabik dan mengerontang hati..
kenanganmu, selalu tercipta lewat hujan...

seperti ketika, aku mengunjungimu..
terperangkap dalam basah hujan di luar..
membuat waktu lebih lama mengizinkanku bersamamu.
tak pernah ada yang spesial, tidak kata, atau apapun..
hanya kau, dan hujan..

seperti juga ketika, kau mengunjungiku..
terperangkap dalam basah hujan di luar..
membuat waktu lebih lama mengizinkanku bersamamu..
kau asyik sendiri, aku beranjak, menyeduhkan kopi untuk kita berdua, kau tak menyentuhnya sama sekali, sampai aku yang kemudian menyuruhmu menghabiskannya, dan kau, seperti biasa, selalu memujiku untuk hal-hal sekecil itu.
tak pernah ada yang spesial, tidak kata (meski itu berupa beribu pujian), atau apapun..
hanya kau, dan hujan..

juga kala ini..
saat kupamit pulang, kau menahan, memintaku menunggu, kita pulang bersama..
dalam perjalanan roda dua, hujan turun mengguyur, kita terus berjalan, karena hujan sudah jadi teman..
kau bercanda, menaikkan kakimu, air menciprati kakiku..
basah bawah pakaianku, juga sebagian hatiku..
lalu kita berhenti..
aku pamit dan kita berpisah..
tak pernah ada yang spesial, tidak kata, atau apapun (meski itu beribu perhatian yang kau hujamkan padaku)..
hanya kau, dan hujan..

tapi, tidak juga..
kau pun sering datang saat panas membakar..
akan tetapi, hujanlah yang selalu berhasil mencabut paksa kenangan dari tumpukan usang di sudut otak, lalu menari-nari dalam benak..
mengubah seolah-olah hari sendu ikut menangisi ketidakberdayaanku memiliki hatimu..

lalu aku, kini,
saat hujan tak datang, kugantikan tugasnya.
menyeret kembali kenangan tentangmu, menyalakan
lagu yang pernah kuambil dari komputermu..
aku tak tahu itu lagu siapa, tak terlalu enak pula didengar..
hanya bingung, bagaimana caranya agar rasa yang dulu pernah ada, hadir kembali bersama kenangan..
kemudian lagu berganti..bukan lagumu yang pasti..

hujan tak juga datang, sampai detik ini..
tak tahu kenapa..
mungkin ia kini mulai mengerti..

aku selalu kalah dalam hujan..
dan setiap kau datang..

Senin, 01 November 2010

Jumat, 29 Oktober 2010

perempuan

Aku bertemu perempuan-perempuan yang mengajarkanku tentang hidup dan bagaimana cara bertahan di dalamnya. Mereka adalah ibuku, dan dia.. Dan barusan saja, dia dengan semena-mena membuatku khawatir. Membuatku semakin merasa bersalah karena tidak berada di sampingnya.

Meski kuat, tapi aku memaklumi, jika dia merasa... kesendirian lebih baik. "...pada akhirnya kita akan sendiri, tak berguna terlalu bergantung pada orang tua atau teman, tak berguna terlalu takut kehilangan seseorang...", begitu ia bilang... Ya, aku tahu itu. Karena pernah juga merasakannya.

Ah, dan aku yang begitu drama, selalu menjadi seperti ini ketika jauh darinya. Dia selalu sukses membuatku berkata..aku seharusnya tak pergi. Kenapa. Entahlah. Padahal, belum lama kami bersama. Dua tahun, bagiku waktu yang singkat, sebuah rekor untuk menjalin keterikatan seerat ini. Hmmm... jika kuulur lagi ke belakang, mungkin bisa cukup menjelaskan, aku mengenalnya, seperti mengenal ibuku waktu muda.

Aku menemukan keistimewaan jiwa manusia dari seorang perempuan. Selalu dari seorang perempuan. Kelemahan fisiknya, yang dipadu dengan ketegaran dan kemampuannya bertahan yang kupikir bisa melebihi seorang pria, membuatku belajar, bahwa inilah kehidupan yang mesti kami hidupi. Jika pria kuat karena fisiknya, maka perempuan kuat karena kesabarannya. Air mata yang sebagian menganggapnya sebagai bentuk kelemahan, ku pikir, itu bagian dari senjata kami untuk meluruhkan sebagian beban di pundak kami. Terkadang cukup dengan itu, untuk beberapa masalah, lalu menghilang dan kembali seperti semula.

Aku pun tak tahu. Kenapa Tuhan menunjukkan kekuatan bertahan itu dalam diri seorang perempuan, sedangkan dari pria, aku belum pernah melihatnya. Bukan maksud meremehkan, hanya saja, apa yang terjadi di sekitarku yang menjadi dasarnya. Dan kebanyakan, justru prialah yang membuat banyak permasalahan bagi perempuan. Lalu, perempuan-perempuan yang kutemui ini belajar bertahan menghadapi masalahnya, dan, mengajariku.

Meski begitu, tak jarang pula mereka mengeluh, seperti yang barusaja terjadi. Tapi aku percaya, itu hanya sementara. Jika berhasil, itu semua akan menjadi bekal yang cukup untuk menjalani masa depan, dikala masalah akan semakin rumit, sesuai zamannya. Aku bilang, tak semua orang mempunyai kesempatan sepertinya. Ia diuji sedemikian rupa olehNya. Bisa jadi, orang yang hidupnya lurus-lurus saja, ketika diuji , menjadi gampang menyerah, karena tidak pernah mengalami ujian sedemikian rupa seperti yang dialami olehnya.

Seperti aku, mungkin. Yang memang tak pernah mengalami apa yang dia dan ibuku pernah alami. Tapi, bukan berarti aku tak punya kesempatan untuk belajar. Mungkin itu alasannya, Tuhan mengirimkan mereka padaku. Perempuan-perempuan hebat itu mengajariku kehidupan dari kehidupan mereka. Tak perlu banyak kata, cukup melihat, mendengar, dan ikut merasakan. Lalu belajar, bertahan, belajar, bertahan, belajar bertahan.

Selanjutnya, aku berdoa, jika Tuhan berkenan, aku ingin selalu bisa membahagiakan mereka. Tolong ingatkan jika aku mulai lupa. Maka, ini kutulis disini, agar kau bisa tahu dan mengerti, juga mengingatkanku suatu saat nanti.

Dan semoga kau juga bisa belajar, bagaimana cara kami bertahan..-_-

Sabtu, 18 September 2010

angin

aku hanya ingin menjadi angin..
yang bertiup di pundakmu yang basah..

mengeringkan peluhmu..

mendengar ceritamu..

menjawab setiap pertanyaan yang kau temui di sepanjang jalan yang kau susuri..

membuatmu mengerti..

membuatmu nyaman saat kau berdiri sendiri..


lalu..


aku bisa pergi,



saat kau tak butuh lagi..

untukmu: petualang
Related Posts with Thumbnails