Kamis, 17 Februari 2011

untuk mereka

kemarin, ketika idealisme masa muda masih segar-segarnya, hidup melanglang buana menyicipi indah dunia masih begitu diimpi-impikan, pembuktian akan diri yang bisa berada disana-sini, aktif mengikuti itu ini, muda, bergelora, semangat membara buktikan eksistensi diri, kemarin, itu kemarin.


sekarang, kenyataan berada di hadapan. coba lihat ke bawah sebentar. hey, banyak yang tak seberuntung dirimu, bisa isi perut sehari sekali saja masih untung, bisa sekolah barang beberapa jam sehari sambil kerja banting tulang sudah sangat bagus, bisa bermain sehabis mandi sore juga sudah sangat senang. ah, kupikir, apa yang kuharap bisa kusombongkan kemarin itu, menjadi tak berarti apa-apa saat melihat mereka.


ada yang lebih penting, ada yang lebih membutuhkan, dan ada yang lebih berarti dari segala mimpi masa muda akan dunia. mimpi-mimpi itu, anggap saja bonus, taruh saja diurutan paling akhir dari daftar panjang keinginan. sekarang, mumpung umur masih mengizinkan, cobalah, geser sedikit kursi antrian menuju mimpimu, pilih untuk mereka, bukan untuk kita, apalagi untuk diri sendiri.


semoga bukan semangat sepintas lalu, semoga bukan karena terbawa keadaan, semoga istiqomah akan usaha mencapainya, dan semoga, bisa amanah menjalankannya kelak. amiin..-_-



april, TUNGGU SAYA..!!! X)

Rabu, 02 Februari 2011

cinta di dalam gelas

dan kopi itu adalah cinta di dalam gelas #andreahirata

ini cuma satu harapan dari berjuta mimpiku untuk bersamamu...

ketika kau dengan pandainya menyeduhkanku kopi terenak di dunia, sehingga membuatku jatuh cinta untuk kesekian kalinya, padamu, pada kopimu...

ketika aku tak perlu banyak mengucap terima kasih, ketika kau hanya butuh senyuman termanisku untuk sebuah kopi termanismu...dan cinta, ada di dalamnya..
.
ketika tak peduli kau suka atau tidak, pada kopiku, pada kegilaanku akan kopi, kau tetap setia membuatkannya untukku pada tengah malam disaat aku harus tetap terjaga..

ketika kau bilang, tak sudi jika aku mencoba kopi buatan yang lain, karena khawatir aku malah jatuh cinta (lagi) pada kopi itu, pada pembuatnya..
ah, lucu sekali, urusan kopi, aku bisa memuji ribuan pembuatnya, tapi tidak dengan cinta..

aku hanya akan jatuh cinta kepada sang pembuat kopi ditengah malam saat mataku tak boleh terpejam, yang kopi cinta buatannya hanya untukku..

aih, secangkir kopi, dimana pahit dan manis bersatu di dalamnya, dan itulah cinta..:D

Kamis, 04 November 2010

PAGI YANG KUCATAT

Pagi ini, di jumat yang mendung, tepat pukul 6.41 waktu rumahku. Aku mencatat.

Tentang pagi yang mencekam. Tentang tivi yang kunyalakan. Tentang berita yang menyampaikan kedukaan, kepanikan, kecemasan. Tentang pagi yang mencekam. Tentang iklan-iklan yang mengganti pemandangan menjadi begitu menyenangkan, menceriakan. Seperti tak mengikuti perkembangan berita pagi, mereka, asyik memamerkan putih wajah mereka, asyik mempromosikan rbt lagu yang sekiranya tak akan laku dijual sekalipun bajakan di emperan, mereka asyik menari-nari, meloncat-loncat, berteriak-teriak hanya karena kelezatan sebuah produk makanan, orang gila!

Lihat, berita pagi kembali.



Berita pagi menyampaikan, di tengah lelapku semalam, jauh di merapi sana, gemuruh kembali, gempa menyapa lagi, mereka tak sempat lari. Aku tak kenal itu si awan panas, tapi, namanya berulang kali disebut seminggu terakhir ini. Dan katanya, ia jahat. Ada juga yang menyebutnya "wedhus gembel", huss...! jangan disebut!. Kata siapa pula aku lupa, jangan sebut-sebut nama itu, cukup panggil si awan panas. Si awan panas mungkin jahat, datang gak bilang-bilang, tahu-tahu nyawa menghilang. Tapi, ia hanya menjalankan tugas, tugas yang dititahkan merapi. Ia memegang janji untuk setia pada merapi, setia pada apapun yang merapi kehendaki, sekalipun hanya sebagai 'muntahan merapi'. Sekalipun tak digaji. Mungkin ia sudah berjanji pada Tuhan, sebelum ia dilahirkan. Mungkin seperti manusia. Mungkin sama seperti si mbah, si pemegang kunci Merapi. Aku harap, semoga si mbah berjanji atas nama Tuhan, bukan atas nama keraton. Karena sampai akhir hayatnya menjaga merapi, yang aku tahu, gajinya cuma Rp. 80.000,- sebulan. Delapan puluh ribu sebulan untuk nyawa sebagai taruhan. Dan mungkin, sebagai imbalan, Tuhan jadikan ia bersujud saat berpulang.



Cukup untuk si awan panas. Sekarang, mari kita lihat para korbannya. Hari pertama ia beraksi, 30 nyawa melayang. Hari selanjutnya, belasan terluka. Dan mungkin, kini jumlah yang mati sudah bertambah. Aku tak hapal benar. Aku bukan si pencatat berita. Radius wilayah aman, satu hari saja, 10 km bertambah. Pengungsi diungsikan, pengungsi membludak. Dapur umum kekurangan juru masak, mengundang tangis pak camat. Pagi ini, dari berita yang kudapat dari akun jejaring sosial yang lain, mereka kelaparan, mereka butuh sarapan. Mereka butuh pakaian, air bersih, perlengkapan khusus wanita, susu bayi, makanan bayi, obat-obatan, masker, juga hiburan. Mereka butuh aksiku, bukan sekadar simpatiku. Mereka butuh aksi para mahasiswa yang gemar berdemo. Cobalah, ganti demo di depan istana menjadi demo masak di dapur umum. Tolonglah, wahai para mahasiswa.



Berita pagi juga menyampaikan, ada abu vulkanik yang menyapu daerah Pangalengan. Hah, Pangalengan!. Gunung mana lagi yang meletus? Papandayan?. Bukan. Kata si pembawa berita, itu abu vulkanik dari merapi. Hey, jauh sekali. Ah, aku tak hapal peta. Jadi, tak tahu benar posisi merapi dimana. Tak tahu garis pegunungan aktif itu melewati daerah mana saja. Ah, aku takjub saja. Tapi tak aneh juga. Kata ibu, kakek nenek, para orang tua, dulu, abu vulkanik sampai menyelimuti seluruh jawa bagian tengah saat merapi merekah. Dan itu, korban sampai ribuan jiwa, dan itu, yang kulihat dari video yang beberapa hari terakhir ini sering diputar di tivi, lahar dan lava pijar sampai muncrat. Mencekam. Aku seperti sedang menonton film, yang kuingat judulnya Dante's Peak, film tentang gunung meletus juga. Yah, mencekam. Kematian menari-nari di depan. Awan panas, lahar, mengejar di belakang.



Berita pagi juga menyampaikan, awan panas mulai turun dari Semeru. Gunung yang beberapa waktu lalu sempat kulihat dari puncak Bromo. Mereka berdua, dua sejoli itu, sama-sama sudah berstatus waspada.



Berita pagi juga bilang, perahu nelayan banyak yang rusak akibat diterjang gelombang setinggi 3 meter di perairan Carita, Banten. Itu akibat aksi si Anak Krakatau. Gempa vulkanik yang terus menerus, sampai ratusan kali setiap hari, menggoncang laut pasti. Ah, apakah status si anak krakatau sekarang? Sudah siagakah? Hey, Banten dan sekitarnya, berhati-hatilah. Jangan sombong. Jangan merasa lebih mengenal alam daripada Tuhan. Kalau diminta pergi, ya pergi, mengungsi, ya mengungsi.



Ada apalagi di berita pagi. Ah ya, Mentawai. Bagaimana kabar disana? Cuaca masih buruk. Samudera Hindia masih tak bersahabat. Akibatnya, bantuan dan relawan kembali tak bisa berlayar. Luka para korban sudah pada membusuk. Apalagi mayat-mayat yang belum juga ditemukan. Sudah tak karuan. Dengar kabar kemarin, para relawan terkendala koordinasi, birokrasi, kurang nasi, bla..bla..bla.. ah.. Dengan kabar kemarin juga, Gubernur Sumatera Barat terbang melenggang ke Jerman, tanpa mengantongi izin dari presiden. Aih, iri sekali aku padanya. Jerman, uy. Aku pingin sekali kesana. Tapi, hey. Anak-anakmu disini sedang kelaparan, pak! Sanak saudara mereka tak jelas nasibnya. Masih bernafaskah, atau sudah dimakan belatung di tengah hutan. Mereka tidur tak beralas, pak! Tulang mereka yang patah belum juga diamputasi, bapak malah enak-enakan bersafari. Pak..pak.. Bapak dari partai mana kalau saya boleh tahu? Apa. Ouch..! Jawaban bapak menampar muka saya, menohok hati saya, menghujam jantung saya. Ah, bapak. Saya mestinya malu, atau, bersyukur karena tak lagi bermain-main dengan golongan itu, partai itu. Ah, pak. Cari kebenaran mah dari mana saja ya, pak. Gak perlu menganggap diri paling benar. Pak, pulang donk, pak..!



Ah, berita apalagi yang menambah cekam pagi ini.

Bukan berita mungkin. Lebih kepada, ketidakberdayaanku melihat ini semua. Begitu mencekam, ketika yang kutahu aku hanya bisa menulis ini. Ketika yang kutahu, aku tak mungkin berada disana. Di Mentawai, di Jogja. Kalau sekadar ingin, sudah dari kemarin-kemarin. Tapi, seseorang yang terpanggil hatinya untuk membantu korban bencana juga perlu memperhitungkan segala sesuatunya. Kita bisa apa, apa yang kita bisa. Dan, bagaimana orang-orang sekitar kita bisa merelakan dan percaya akan kepergian kita, mereka percaya atau tidak, bahwa kita bisa meringankan beban para korban, atau malah sebaliknya. Bukan sekadar keinginan, sekehendak hati menjadi relawan. Salah-salah, kita malah bergabung dengan para korban, ikut menjadi korban.



Yah, inilah pagi yang kucatat. Yang sebenarnya, ingin dari kemarin-kemarin kutumpahkan ini semua, pada kalian, yang sudi membaca. Sekadar berbagi perih. Supaya terasa tidak terlalu perih. Melihat. Mendengar. Menyaksikan. Bencana demi bencana yang sepertinya sudah menganggap kita, Indonesia, sebagai karib mereka. Mereka memilih, mereka memutuskan, inilah tempat yang paling asyik untuk beraksi, entah atas dasar apa. Entah karena Tuhan sedang menguji, entah karena Tuhan sedang murka, entah karena kita senang merusak alam. Entah karena banyak yang korupsi, uang yang seharusnya milik rakyat dikantongi sendiri, jadinya, bencana datang, dan akhirnya, uang-uang itu kembali ke tangan rakyat yang bernama korban. Entah karena kita lupa bersyukur, atau, entah karena ini memang sudah jalannya.



Maka, biarlah. Aku meratapi semua dengan cara ini.

Dengan cara mencatat sebuah pagi.



Cibinong, 5 November 2010.

Selesai pada pukul 8.10 pagi.

Rabu, 03 November 2010

hujan tak lagi datang

beberapa hari ini hujan tak datang...

mungkin itu yang membuat kenanganmu tak lagi mencabik dan mengerontang hati..
kenanganmu, selalu tercipta lewat hujan...

seperti ketika, aku mengunjungimu..
terperangkap dalam basah hujan di luar..
membuat waktu lebih lama mengizinkanku bersamamu.
tak pernah ada yang spesial, tidak kata, atau apapun..
hanya kau, dan hujan..

seperti juga ketika, kau mengunjungiku..
terperangkap dalam basah hujan di luar..
membuat waktu lebih lama mengizinkanku bersamamu..
kau asyik sendiri, aku beranjak, menyeduhkan kopi untuk kita berdua, kau tak menyentuhnya sama sekali, sampai aku yang kemudian menyuruhmu menghabiskannya, dan kau, seperti biasa, selalu memujiku untuk hal-hal sekecil itu.
tak pernah ada yang spesial, tidak kata (meski itu berupa beribu pujian), atau apapun..
hanya kau, dan hujan..

juga kala ini..
saat kupamit pulang, kau menahan, memintaku menunggu, kita pulang bersama..
dalam perjalanan roda dua, hujan turun mengguyur, kita terus berjalan, karena hujan sudah jadi teman..
kau bercanda, menaikkan kakimu, air menciprati kakiku..
basah bawah pakaianku, juga sebagian hatiku..
lalu kita berhenti..
aku pamit dan kita berpisah..
tak pernah ada yang spesial, tidak kata, atau apapun (meski itu beribu perhatian yang kau hujamkan padaku)..
hanya kau, dan hujan..

tapi, tidak juga..
kau pun sering datang saat panas membakar..
akan tetapi, hujanlah yang selalu berhasil mencabut paksa kenangan dari tumpukan usang di sudut otak, lalu menari-nari dalam benak..
mengubah seolah-olah hari sendu ikut menangisi ketidakberdayaanku memiliki hatimu..

lalu aku, kini,
saat hujan tak datang, kugantikan tugasnya.
menyeret kembali kenangan tentangmu, menyalakan
lagu yang pernah kuambil dari komputermu..
aku tak tahu itu lagu siapa, tak terlalu enak pula didengar..
hanya bingung, bagaimana caranya agar rasa yang dulu pernah ada, hadir kembali bersama kenangan..
kemudian lagu berganti..bukan lagumu yang pasti..

hujan tak juga datang, sampai detik ini..
tak tahu kenapa..
mungkin ia kini mulai mengerti..

aku selalu kalah dalam hujan..
dan setiap kau datang..

Senin, 01 November 2010

Jumat, 29 Oktober 2010

perempuan

Aku bertemu perempuan-perempuan yang mengajarkanku tentang hidup dan bagaimana cara bertahan di dalamnya. Mereka adalah ibuku, dan dia.. Dan barusan saja, dia dengan semena-mena membuatku khawatir. Membuatku semakin merasa bersalah karena tidak berada di sampingnya.

Meski kuat, tapi aku memaklumi, jika dia merasa... kesendirian lebih baik. "...pada akhirnya kita akan sendiri, tak berguna terlalu bergantung pada orang tua atau teman, tak berguna terlalu takut kehilangan seseorang...", begitu ia bilang... Ya, aku tahu itu. Karena pernah juga merasakannya.

Ah, dan aku yang begitu drama, selalu menjadi seperti ini ketika jauh darinya. Dia selalu sukses membuatku berkata..aku seharusnya tak pergi. Kenapa. Entahlah. Padahal, belum lama kami bersama. Dua tahun, bagiku waktu yang singkat, sebuah rekor untuk menjalin keterikatan seerat ini. Hmmm... jika kuulur lagi ke belakang, mungkin bisa cukup menjelaskan, aku mengenalnya, seperti mengenal ibuku waktu muda.

Aku menemukan keistimewaan jiwa manusia dari seorang perempuan. Selalu dari seorang perempuan. Kelemahan fisiknya, yang dipadu dengan ketegaran dan kemampuannya bertahan yang kupikir bisa melebihi seorang pria, membuatku belajar, bahwa inilah kehidupan yang mesti kami hidupi. Jika pria kuat karena fisiknya, maka perempuan kuat karena kesabarannya. Air mata yang sebagian menganggapnya sebagai bentuk kelemahan, ku pikir, itu bagian dari senjata kami untuk meluruhkan sebagian beban di pundak kami. Terkadang cukup dengan itu, untuk beberapa masalah, lalu menghilang dan kembali seperti semula.

Aku pun tak tahu. Kenapa Tuhan menunjukkan kekuatan bertahan itu dalam diri seorang perempuan, sedangkan dari pria, aku belum pernah melihatnya. Bukan maksud meremehkan, hanya saja, apa yang terjadi di sekitarku yang menjadi dasarnya. Dan kebanyakan, justru prialah yang membuat banyak permasalahan bagi perempuan. Lalu, perempuan-perempuan yang kutemui ini belajar bertahan menghadapi masalahnya, dan, mengajariku.

Meski begitu, tak jarang pula mereka mengeluh, seperti yang barusaja terjadi. Tapi aku percaya, itu hanya sementara. Jika berhasil, itu semua akan menjadi bekal yang cukup untuk menjalani masa depan, dikala masalah akan semakin rumit, sesuai zamannya. Aku bilang, tak semua orang mempunyai kesempatan sepertinya. Ia diuji sedemikian rupa olehNya. Bisa jadi, orang yang hidupnya lurus-lurus saja, ketika diuji , menjadi gampang menyerah, karena tidak pernah mengalami ujian sedemikian rupa seperti yang dialami olehnya.

Seperti aku, mungkin. Yang memang tak pernah mengalami apa yang dia dan ibuku pernah alami. Tapi, bukan berarti aku tak punya kesempatan untuk belajar. Mungkin itu alasannya, Tuhan mengirimkan mereka padaku. Perempuan-perempuan hebat itu mengajariku kehidupan dari kehidupan mereka. Tak perlu banyak kata, cukup melihat, mendengar, dan ikut merasakan. Lalu belajar, bertahan, belajar, bertahan, belajar bertahan.

Selanjutnya, aku berdoa, jika Tuhan berkenan, aku ingin selalu bisa membahagiakan mereka. Tolong ingatkan jika aku mulai lupa. Maka, ini kutulis disini, agar kau bisa tahu dan mengerti, juga mengingatkanku suatu saat nanti.

Dan semoga kau juga bisa belajar, bagaimana cara kami bertahan..-_-
Related Posts with Thumbnails