Kamis, 04 November 2010

PAGI YANG KUCATAT

Pagi ini, di jumat yang mendung, tepat pukul 6.41 waktu rumahku. Aku mencatat.

Tentang pagi yang mencekam. Tentang tivi yang kunyalakan. Tentang berita yang menyampaikan kedukaan, kepanikan, kecemasan. Tentang pagi yang mencekam. Tentang iklan-iklan yang mengganti pemandangan menjadi begitu menyenangkan, menceriakan. Seperti tak mengikuti perkembangan berita pagi, mereka, asyik memamerkan putih wajah mereka, asyik mempromosikan rbt lagu yang sekiranya tak akan laku dijual sekalipun bajakan di emperan, mereka asyik menari-nari, meloncat-loncat, berteriak-teriak hanya karena kelezatan sebuah produk makanan, orang gila!

Lihat, berita pagi kembali.



Berita pagi menyampaikan, di tengah lelapku semalam, jauh di merapi sana, gemuruh kembali, gempa menyapa lagi, mereka tak sempat lari. Aku tak kenal itu si awan panas, tapi, namanya berulang kali disebut seminggu terakhir ini. Dan katanya, ia jahat. Ada juga yang menyebutnya "wedhus gembel", huss...! jangan disebut!. Kata siapa pula aku lupa, jangan sebut-sebut nama itu, cukup panggil si awan panas. Si awan panas mungkin jahat, datang gak bilang-bilang, tahu-tahu nyawa menghilang. Tapi, ia hanya menjalankan tugas, tugas yang dititahkan merapi. Ia memegang janji untuk setia pada merapi, setia pada apapun yang merapi kehendaki, sekalipun hanya sebagai 'muntahan merapi'. Sekalipun tak digaji. Mungkin ia sudah berjanji pada Tuhan, sebelum ia dilahirkan. Mungkin seperti manusia. Mungkin sama seperti si mbah, si pemegang kunci Merapi. Aku harap, semoga si mbah berjanji atas nama Tuhan, bukan atas nama keraton. Karena sampai akhir hayatnya menjaga merapi, yang aku tahu, gajinya cuma Rp. 80.000,- sebulan. Delapan puluh ribu sebulan untuk nyawa sebagai taruhan. Dan mungkin, sebagai imbalan, Tuhan jadikan ia bersujud saat berpulang.



Cukup untuk si awan panas. Sekarang, mari kita lihat para korbannya. Hari pertama ia beraksi, 30 nyawa melayang. Hari selanjutnya, belasan terluka. Dan mungkin, kini jumlah yang mati sudah bertambah. Aku tak hapal benar. Aku bukan si pencatat berita. Radius wilayah aman, satu hari saja, 10 km bertambah. Pengungsi diungsikan, pengungsi membludak. Dapur umum kekurangan juru masak, mengundang tangis pak camat. Pagi ini, dari berita yang kudapat dari akun jejaring sosial yang lain, mereka kelaparan, mereka butuh sarapan. Mereka butuh pakaian, air bersih, perlengkapan khusus wanita, susu bayi, makanan bayi, obat-obatan, masker, juga hiburan. Mereka butuh aksiku, bukan sekadar simpatiku. Mereka butuh aksi para mahasiswa yang gemar berdemo. Cobalah, ganti demo di depan istana menjadi demo masak di dapur umum. Tolonglah, wahai para mahasiswa.



Berita pagi juga menyampaikan, ada abu vulkanik yang menyapu daerah Pangalengan. Hah, Pangalengan!. Gunung mana lagi yang meletus? Papandayan?. Bukan. Kata si pembawa berita, itu abu vulkanik dari merapi. Hey, jauh sekali. Ah, aku tak hapal peta. Jadi, tak tahu benar posisi merapi dimana. Tak tahu garis pegunungan aktif itu melewati daerah mana saja. Ah, aku takjub saja. Tapi tak aneh juga. Kata ibu, kakek nenek, para orang tua, dulu, abu vulkanik sampai menyelimuti seluruh jawa bagian tengah saat merapi merekah. Dan itu, korban sampai ribuan jiwa, dan itu, yang kulihat dari video yang beberapa hari terakhir ini sering diputar di tivi, lahar dan lava pijar sampai muncrat. Mencekam. Aku seperti sedang menonton film, yang kuingat judulnya Dante's Peak, film tentang gunung meletus juga. Yah, mencekam. Kematian menari-nari di depan. Awan panas, lahar, mengejar di belakang.



Berita pagi juga menyampaikan, awan panas mulai turun dari Semeru. Gunung yang beberapa waktu lalu sempat kulihat dari puncak Bromo. Mereka berdua, dua sejoli itu, sama-sama sudah berstatus waspada.



Berita pagi juga bilang, perahu nelayan banyak yang rusak akibat diterjang gelombang setinggi 3 meter di perairan Carita, Banten. Itu akibat aksi si Anak Krakatau. Gempa vulkanik yang terus menerus, sampai ratusan kali setiap hari, menggoncang laut pasti. Ah, apakah status si anak krakatau sekarang? Sudah siagakah? Hey, Banten dan sekitarnya, berhati-hatilah. Jangan sombong. Jangan merasa lebih mengenal alam daripada Tuhan. Kalau diminta pergi, ya pergi, mengungsi, ya mengungsi.



Ada apalagi di berita pagi. Ah ya, Mentawai. Bagaimana kabar disana? Cuaca masih buruk. Samudera Hindia masih tak bersahabat. Akibatnya, bantuan dan relawan kembali tak bisa berlayar. Luka para korban sudah pada membusuk. Apalagi mayat-mayat yang belum juga ditemukan. Sudah tak karuan. Dengar kabar kemarin, para relawan terkendala koordinasi, birokrasi, kurang nasi, bla..bla..bla.. ah.. Dengan kabar kemarin juga, Gubernur Sumatera Barat terbang melenggang ke Jerman, tanpa mengantongi izin dari presiden. Aih, iri sekali aku padanya. Jerman, uy. Aku pingin sekali kesana. Tapi, hey. Anak-anakmu disini sedang kelaparan, pak! Sanak saudara mereka tak jelas nasibnya. Masih bernafaskah, atau sudah dimakan belatung di tengah hutan. Mereka tidur tak beralas, pak! Tulang mereka yang patah belum juga diamputasi, bapak malah enak-enakan bersafari. Pak..pak.. Bapak dari partai mana kalau saya boleh tahu? Apa. Ouch..! Jawaban bapak menampar muka saya, menohok hati saya, menghujam jantung saya. Ah, bapak. Saya mestinya malu, atau, bersyukur karena tak lagi bermain-main dengan golongan itu, partai itu. Ah, pak. Cari kebenaran mah dari mana saja ya, pak. Gak perlu menganggap diri paling benar. Pak, pulang donk, pak..!



Ah, berita apalagi yang menambah cekam pagi ini.

Bukan berita mungkin. Lebih kepada, ketidakberdayaanku melihat ini semua. Begitu mencekam, ketika yang kutahu aku hanya bisa menulis ini. Ketika yang kutahu, aku tak mungkin berada disana. Di Mentawai, di Jogja. Kalau sekadar ingin, sudah dari kemarin-kemarin. Tapi, seseorang yang terpanggil hatinya untuk membantu korban bencana juga perlu memperhitungkan segala sesuatunya. Kita bisa apa, apa yang kita bisa. Dan, bagaimana orang-orang sekitar kita bisa merelakan dan percaya akan kepergian kita, mereka percaya atau tidak, bahwa kita bisa meringankan beban para korban, atau malah sebaliknya. Bukan sekadar keinginan, sekehendak hati menjadi relawan. Salah-salah, kita malah bergabung dengan para korban, ikut menjadi korban.



Yah, inilah pagi yang kucatat. Yang sebenarnya, ingin dari kemarin-kemarin kutumpahkan ini semua, pada kalian, yang sudi membaca. Sekadar berbagi perih. Supaya terasa tidak terlalu perih. Melihat. Mendengar. Menyaksikan. Bencana demi bencana yang sepertinya sudah menganggap kita, Indonesia, sebagai karib mereka. Mereka memilih, mereka memutuskan, inilah tempat yang paling asyik untuk beraksi, entah atas dasar apa. Entah karena Tuhan sedang menguji, entah karena Tuhan sedang murka, entah karena kita senang merusak alam. Entah karena banyak yang korupsi, uang yang seharusnya milik rakyat dikantongi sendiri, jadinya, bencana datang, dan akhirnya, uang-uang itu kembali ke tangan rakyat yang bernama korban. Entah karena kita lupa bersyukur, atau, entah karena ini memang sudah jalannya.



Maka, biarlah. Aku meratapi semua dengan cara ini.

Dengan cara mencatat sebuah pagi.



Cibinong, 5 November 2010.

Selesai pada pukul 8.10 pagi.

Rabu, 03 November 2010

hujan tak lagi datang

beberapa hari ini hujan tak datang...

mungkin itu yang membuat kenanganmu tak lagi mencabik dan mengerontang hati..
kenanganmu, selalu tercipta lewat hujan...

seperti ketika, aku mengunjungimu..
terperangkap dalam basah hujan di luar..
membuat waktu lebih lama mengizinkanku bersamamu.
tak pernah ada yang spesial, tidak kata, atau apapun..
hanya kau, dan hujan..

seperti juga ketika, kau mengunjungiku..
terperangkap dalam basah hujan di luar..
membuat waktu lebih lama mengizinkanku bersamamu..
kau asyik sendiri, aku beranjak, menyeduhkan kopi untuk kita berdua, kau tak menyentuhnya sama sekali, sampai aku yang kemudian menyuruhmu menghabiskannya, dan kau, seperti biasa, selalu memujiku untuk hal-hal sekecil itu.
tak pernah ada yang spesial, tidak kata (meski itu berupa beribu pujian), atau apapun..
hanya kau, dan hujan..

juga kala ini..
saat kupamit pulang, kau menahan, memintaku menunggu, kita pulang bersama..
dalam perjalanan roda dua, hujan turun mengguyur, kita terus berjalan, karena hujan sudah jadi teman..
kau bercanda, menaikkan kakimu, air menciprati kakiku..
basah bawah pakaianku, juga sebagian hatiku..
lalu kita berhenti..
aku pamit dan kita berpisah..
tak pernah ada yang spesial, tidak kata, atau apapun (meski itu beribu perhatian yang kau hujamkan padaku)..
hanya kau, dan hujan..

tapi, tidak juga..
kau pun sering datang saat panas membakar..
akan tetapi, hujanlah yang selalu berhasil mencabut paksa kenangan dari tumpukan usang di sudut otak, lalu menari-nari dalam benak..
mengubah seolah-olah hari sendu ikut menangisi ketidakberdayaanku memiliki hatimu..

lalu aku, kini,
saat hujan tak datang, kugantikan tugasnya.
menyeret kembali kenangan tentangmu, menyalakan
lagu yang pernah kuambil dari komputermu..
aku tak tahu itu lagu siapa, tak terlalu enak pula didengar..
hanya bingung, bagaimana caranya agar rasa yang dulu pernah ada, hadir kembali bersama kenangan..
kemudian lagu berganti..bukan lagumu yang pasti..

hujan tak juga datang, sampai detik ini..
tak tahu kenapa..
mungkin ia kini mulai mengerti..

aku selalu kalah dalam hujan..
dan setiap kau datang..

Senin, 01 November 2010

Jumat, 29 Oktober 2010

perempuan

Aku bertemu perempuan-perempuan yang mengajarkanku tentang hidup dan bagaimana cara bertahan di dalamnya. Mereka adalah ibuku, dan dia.. Dan barusan saja, dia dengan semena-mena membuatku khawatir. Membuatku semakin merasa bersalah karena tidak berada di sampingnya.

Meski kuat, tapi aku memaklumi, jika dia merasa... kesendirian lebih baik. "...pada akhirnya kita akan sendiri, tak berguna terlalu bergantung pada orang tua atau teman, tak berguna terlalu takut kehilangan seseorang...", begitu ia bilang... Ya, aku tahu itu. Karena pernah juga merasakannya.

Ah, dan aku yang begitu drama, selalu menjadi seperti ini ketika jauh darinya. Dia selalu sukses membuatku berkata..aku seharusnya tak pergi. Kenapa. Entahlah. Padahal, belum lama kami bersama. Dua tahun, bagiku waktu yang singkat, sebuah rekor untuk menjalin keterikatan seerat ini. Hmmm... jika kuulur lagi ke belakang, mungkin bisa cukup menjelaskan, aku mengenalnya, seperti mengenal ibuku waktu muda.

Aku menemukan keistimewaan jiwa manusia dari seorang perempuan. Selalu dari seorang perempuan. Kelemahan fisiknya, yang dipadu dengan ketegaran dan kemampuannya bertahan yang kupikir bisa melebihi seorang pria, membuatku belajar, bahwa inilah kehidupan yang mesti kami hidupi. Jika pria kuat karena fisiknya, maka perempuan kuat karena kesabarannya. Air mata yang sebagian menganggapnya sebagai bentuk kelemahan, ku pikir, itu bagian dari senjata kami untuk meluruhkan sebagian beban di pundak kami. Terkadang cukup dengan itu, untuk beberapa masalah, lalu menghilang dan kembali seperti semula.

Aku pun tak tahu. Kenapa Tuhan menunjukkan kekuatan bertahan itu dalam diri seorang perempuan, sedangkan dari pria, aku belum pernah melihatnya. Bukan maksud meremehkan, hanya saja, apa yang terjadi di sekitarku yang menjadi dasarnya. Dan kebanyakan, justru prialah yang membuat banyak permasalahan bagi perempuan. Lalu, perempuan-perempuan yang kutemui ini belajar bertahan menghadapi masalahnya, dan, mengajariku.

Meski begitu, tak jarang pula mereka mengeluh, seperti yang barusaja terjadi. Tapi aku percaya, itu hanya sementara. Jika berhasil, itu semua akan menjadi bekal yang cukup untuk menjalani masa depan, dikala masalah akan semakin rumit, sesuai zamannya. Aku bilang, tak semua orang mempunyai kesempatan sepertinya. Ia diuji sedemikian rupa olehNya. Bisa jadi, orang yang hidupnya lurus-lurus saja, ketika diuji , menjadi gampang menyerah, karena tidak pernah mengalami ujian sedemikian rupa seperti yang dialami olehnya.

Seperti aku, mungkin. Yang memang tak pernah mengalami apa yang dia dan ibuku pernah alami. Tapi, bukan berarti aku tak punya kesempatan untuk belajar. Mungkin itu alasannya, Tuhan mengirimkan mereka padaku. Perempuan-perempuan hebat itu mengajariku kehidupan dari kehidupan mereka. Tak perlu banyak kata, cukup melihat, mendengar, dan ikut merasakan. Lalu belajar, bertahan, belajar, bertahan, belajar bertahan.

Selanjutnya, aku berdoa, jika Tuhan berkenan, aku ingin selalu bisa membahagiakan mereka. Tolong ingatkan jika aku mulai lupa. Maka, ini kutulis disini, agar kau bisa tahu dan mengerti, juga mengingatkanku suatu saat nanti.

Dan semoga kau juga bisa belajar, bagaimana cara kami bertahan..-_-

Sabtu, 18 September 2010

angin

aku hanya ingin menjadi angin..
yang bertiup di pundakmu yang basah..

mengeringkan peluhmu..

mendengar ceritamu..

menjawab setiap pertanyaan yang kau temui di sepanjang jalan yang kau susuri..

membuatmu mengerti..

membuatmu nyaman saat kau berdiri sendiri..


lalu..


aku bisa pergi,



saat kau tak butuh lagi..

untukmu: petualang

Minggu, 22 Agustus 2010

asap..mu.


banyak yang sudah terjadi di sini, di sudut hati, ketika kau melangkah pergi...
hujan, terik, gulita, benderang..

ketika asap tebal menghalangi pandangan..
asap yang kau paksakan untuk kuhirup
memenuhi rongga hidung, dan satu detik saja, ia telah menyatu bersama sel darah...
itu yang salah...
jika saja tak kuizinkan mata ini bergerak ke arah kursi yang kau duduki...
jika saja tak kubiarkan pikiran ini mencari pengganti seseorang yang lama kunanti..
kamu tak perlu ada di hati..

kini aku meminta, ketika kuingat aku pernah menolak..
untuk mencium aroma asapmu...
yang kutahu semakin jauh, jauuuhh...
melayang.. bersama awan yang mengiringi langkahmu pergi..

ketika selintas asapmu kembali...
dan ternyata, itu bukan milikmu..

juga ketika, semua itu harus kuyakini, terjadi....
aku hanya bisa mengenang aroma asapmu..
yang kau bawa pergi..

-_-

Jumat, 23 Juli 2010

izin



lagi-lagi..
berterima kasih pada semesta.. karena saya diberi izin untuk menikmatinya.

saat kau dan aku terjerembab pada waktu, menunggu, dan sejenak bisu.
ketika pada akhirnya kau mulai bicara, cairkan suasana, dan aku... tak lagi merasa beku.
segala celoteh kubiarkan mengalir, kuanggap kau telah mengenalku sejak lama, dan, begitu juga kau...
saat aku menikmati, begitu menikmati, lebih dari segelas cappucinno yang kuminum, dan mungkin juga kopi yang kau sesap..
karena tak pernah sebelumnya, aku bisa, menganggapmu biasa...
hingga tak ada lagi keraguan, saat ku hendak bicara...
degup-degup itu bersedia berkompromi.. melemah dari yang biasa terjadi saat kau di sisi..
juga kenyamanan yang diberikan oleh malam, dan aku, berharap waktu tak berputar saat itu..
saat kau dan aku, tak juga beranjak, meski semua bersiap pulang..
karena tahu, kita terbiasa dalam asuhan sang malam..
hingga akhirnya..
harus aku.. yang meminta izin terlebih dahulu..
untuk bersegera menutup episode ini..

dan mungkin, ini penutup yang manis, jika memang semesta memberiku izin untuk menikmati hanya sampai episode ini...
hingga pada akhirnya aku mengakui, bahwa kebahagiaan kadang berbeda tipis dengan rasa sakit, jika suatu ketika kita menyadari, bahwa kita takkan pernah bisa menikmatinya lagi..

Rabu, 30 Juni 2010

lagi-lagi tentang MIMPI


lagi-lagi tentang mimpi...

Apa yang orang lakukan terhadap mimpinya..? berusaha mewujudkannya, atau sekedar menjadikannya 'bunga' di tengah kehidupannya yang getir, agar ia punya alasan untuk tetap meneruskan hidupnya. Dan karena hidup itu pilihan, maka saya pilih yang pertama.

Pertanyaannya.. bagaimana agar kita tetap setia pada usaha untuk mewujudkan mimpi kita..? Karena terkadang, ditengah perjalanan, banyak hal yang membuat kita berpikir ulang tentang mimpi kita, bermacam keadaan memaksa kita untuk 'menyerah', pada titik dimana satu titik lagi -seandainya kita bertahan- kita bisa mewujudkan mimpi tersebut.

Ya, diluar sana, terbentang luas jalan untuk membawa kita pada mimpi yang kita harapkan. Tapi tentu saja, jalan itu tak mulus, dan selalu saja ada saat dimana kita tak bisa memilih arah yang benar menuju mimpi kita. Tak jarang juga, ada saat dimana kita memilih untuk berhenti, atau bahkan mundur, dan mengubur dalam-dalam mimpi tersebut. Ini wajar dan sangat lumrah. Karena sifat dasar manusia yang cenderung lebih memilih hidup dalam zona aman (dunia 'nyata'nya), ketimbang 'bersusah-susah' bermimpi, yang selanjutnya akan menghadirkan berjuta resiko dalam mewujudkannya.

Tapi itulah hidup, dengan segala pilihan beserta resikonya. Bahkan tak memilih pun merupakan pilihan yang beresiko, beresiko menerima apapun yang tidak dipilihnya.

Dan resiko dari berhenti mewujudkan mimpi adalah...
penyesalan seumur hidup..!

terdengar sedikit ekstrim memang..
tapi, begitulah kenyataannya..

jadi, mari terus BERMIMPI.

Jumat, 11 Juni 2010

GILA

apa yang orang sebut dengan berlaku gila..?
apakah sesuatu yang tidak banyak dilakukan oleh orang normal?
lalu apa tolak ukur sesuatu itu disebut normal? apakah hanya karena itu dilakukan oleh mayoritas...
apa kabar dengan orang-orang yang melakukan hal yang tidak biasa dilakukan atau ditutupi oleh kebanyakan orang normal...
mereka yang berani melawan segala bentuk stereotip, meainstreem dan citra yang banyak dibentuk oleh orang-orang mayoritas... demi sebuah kehidupan yang mereka perjuangkan...

dan bagaimana jika pada akhirnya hal itu terjadi pada kita... tidak atau dengan sengaja kita lakukan...
yang mungkin tidak kita sadari, atau malah sangat amat kita sadari...

belum ada jawabannya...
karena masing-masing dari kita mungkin tidak akan pernah mengakui..
bahwa sebetulnya...
kita pernah..
....GILA....

-----------------------------------------------------------------------------------------------
110610
02.34 PM

Sabtu, 05 Juni 2010

luvpucinno

seperti malam ini, kunikmati kembali segelas capucinno hangatku..
kuhirup dalam-dalam aromanya...
kusesapi manis, pahit dan gurihnya.. paduan rasa yang semakin membuatku tak ingin cepat2 menghabiskannya...
seperti itu, malam ini..
kuingat segelas capucinnoku dan secangkir kopimu...
serupa.. tapi tak sama...

takdir

bukan lagi sekedar roman...
ketika siluetmu berhasil menghapus kabut dalam benakku yang gelap
setidaknya, setitik cahaya terserap kembali...
menerangi jiwaku yang mulai lelah dengan semua...

ini bukan cerita tentang sesuatu yang menggebu..
ketika waktu mengizinkanku bersamamu..
bukan juga sekedar melepas lelah..
ketika raga tak juga berhenti.. memaksa bersama..

ini juga bukan sebuah pembelaan..
ketika aku diharuskan..
tak melepas kebersamaan..
karena aku dibutuhkan..

ahh....
yang kutahu..
dan yang ingin slalu kuingat..
aku menikmati..
ketika takdir dengan segala misterinya..
menggiringku...
padamu..

Selasa, 27 April 2010

tentang hidup

pada sebuah dinding ia bertanya, " apa katamu tentang hidup? "

dinding pun menjawab, " hidup hanyaLAH sebuah awal dan akhir ".

hanya pada sebuah dinding, ia kini berteman. karena ia merasa, tak lagi ada manusia yang bisa memahaminya.

dan, karena merasa tak puas, ia kembali berseru..
" hanya itu..?, biasanya kamu selalu memberikan jawaban cerdas sekaligus menjelaskannya panjang lebar padaku. aku tak puas dengan jawabanmu kali ini .. "

dinding hanya diam..

memberikan keheningan yang tak biasa padanya..

hening yang lama-lama dingin..

" kamu berubah...", ia buka suara kembali.

" hidup juga sebuah perubahan, dari awal menjadi akhir ", dinding menambahkan.

" sama saja, kamu bukan lagi yang dulu.."

" karena inilah hidup!"

ternyata dinding pun seperti manusia, bisa berubah. mungkin salah lagi, ia menjadikan dinding sebagai teman. karena tak bedanya seorang manusia, benda mati pun memiliki usia, bisa berubah, lalu akhirnya.. musnah..

" baiklah, kamu selalu benar.. hidup memang sudah berubah.. kamu yang tak seperti dulu, dan aku yang tak lagi bisa memahami perubahanmu, juga hidup..", serunya kembali, pasrah.

hening lagi..

"sebelum keberadaanku tak diinginkan lagi, izinkan aku memberi pesan terakhir..", dinding menyambung kembali.

" hidup terlalu berarti jika kau anggap kematian lebih menenangkan.. karena mati, kau bisa lebih menghargai hidup. dan kau akan menyesal, jika kematian yang kau pilih tak menjadikanmu berharga dalam hidup.." tak terduga, itulah kata-kata terakhirnya, sebelum sang dinding sempat memberikan pesan terakhir.

lalu dinding itu ia robohkan, hingga benda mati itu kini tutup usia. ia pun segera menyusul, memutuskan untuk mengakhiri kehidupan yang ia anggap sebagai hidupnya.

disinilah, disini ia seharusnya berada.
pada bumi dimana ia berpijak. bukan lagi dalam alam pikirannya yang liar. ia menyambung nyawa dengan menghirup udaranya, membasahi kerongkongannya dengan air yang mengalir di tanahnya, dan makan dari hasil tanahnya. disini seharusnya jiwanya berada...

ia kembali, pada dunia dimana ia semestinya berada.
ia telah kembali, karena memahami bahwa...

-kita takkan bisa mendapatkan kedamaian dengan menghindari hidup...-

hingga akhirnya, ia bisa beristirahat dalam kedamaian, dengan berserah pada kehidupan.

Sabtu, 10 April 2010

rumah

ini yang disebutnya rumah..
bukan dalam wujud sebenarnya, hanya suatu tempat dalam jiwanya, yang kecil, sederhana tapi membuatnya merasa nyaman.. jauh dari hingar-bingar, tak ada kilau dunia yang sering membuatnya lupa, lupa akan hakikat dirinya.. ia rindu itu, rindu pada rumah itu..

ini yang disebutnya rumah...
ketika ia hanya sendiri. tanpa siapapun, baik di samping maupun di dalam hatinya.. ia yang tak pernah mengeluh saat sepi menyinggahi, saat gelap mengendap, saat petir bergemuruh, saat hujan deras tak henti membasahi rumahnya, saat genangan air memenuhi terasnya.. ia asyik bermain, bukan asyik, tapi khusyuk bermain.. membasahi kaki2nya dengan sisa genangan air hujan, menemani burung bernyanyi, burung yang tiap hari hinggap di dahan pohon depan jendela kamarnya, mengikuti kemana awan berjalan, awan yang selalu berubah bentuk, sesuai dengan suasana hatinya.. kadang bentuk hati, bunga, atau bahkan sebilah pisau.. ia yang selalu bahagia, bahagia dengan rumah kecilnya..

ini yang disebutnya rumah..
saat sendiri, karena kesendirianlah yang membuatnya kuat.. karena sendiri, maka siapa lagi yang ia anggap bisa menemani, hanya Dia.. hanya Dia yang ia anggap pantas, pantas menemaninya dalam rumah kecilnya.. cuma Ia, yang sanggup mengganti kesenangan yang suatu saat bisa saja dicabut-Nya dari rumah kecilnya.. maka ia pun bersiap untuk hal itu, jika suatu saat tak lagi ia dapat bahagia itu.. setiap malam, setiap malam ia mendekat, berucap, bersujud, memohon, menangis, melafalkan ayat-ayatNya.. setiap malam menjelang fajar menyapanya kembali.. hingga ia dapat, ia dapat merasakan kehadiranNya dalam sebentuk rasa "manis" yang merasuki jiwanya.. ah, alangkah bahagianya ia saat itu..

ini yang disebutnya rumah..
rumah yang kini kosong, ditinggal pemiliknya..
hingga ia ragu, masihkah sama, jika ia kembali menempati rumah itu.. ah terlalu lama ia pergi, hingga ia merasa tak pantas lagi menempatinya.. rumah yang tetap bersih, tetap sepi, masih dengan pohon yang sama di depan jendela kamarnya, masih dengan awan yang sama di langitnya, awan yang selalu berubah bentuk..
tapi..
tak ada lagi burung bernyanyi, yang terdengar hanya bising deru kendaraan..
tak ada lagi bentuk hati dan bunga pada awan, yang terlihat hanya api.. ya, awan yang serupa bola api. bukan..! bukan matahari, tapi itu bola api yang membakar rumah kecilnya, juga pisau-pisau mengelilingi rumahnya yang terbakar.. ah, untunglah.. itu hanya ia lihat pada awan, hanya menyerupai, bukan keadaan yang sebenarnya..

hingga ia sadari kemudian, dunia memang telah berubah, dan hidup tak lagi sama..
tapi ia tetap rindu..
rindu pada rumah kecilnya yang dulu..

aku rindu..-_-

Senin, 08 Maret 2010

untitled

Lelah gontai pekat terpasung
Hening diri kelam mematung..
Kala sosok bayang tertangkap mata
Kala jiwa mengucap nama..

Pekat dan kelam semalam..
Hadirkan dewa-dewi..
Tebarkan rindu berirama sendu..
Racuni diri kacaukan kalbu..

Hingga dini hari..
Kepaknya tak henti bergemuruh..
Membawa angin subuh..
Dingin..
Bekukan hati seluruh..

Bagai puting beliung
Kau memasung, membuatku mematung..
Penebar racun, menyebar rindu menyendu..

Hingga beku..
dan porak-poranda hatiku..

hujan

aku rindu hujan kala itu..
dikala gerimisnya kutantang..
biar basah muka meradang..

aku rindu hujan kali itu..
dikala derasnya kuhadang..
biar kuyup hati terpanggang..

aku rindu hujan kali itu..
dikala reda tak kunjung datang..
menahan raga yang kuundang..

aku juga rindu hujan kali itu..
saat udara mengambang..
menggelontorkan sebaris kata yang terbungkam..

"aku selalu rindu hujan
dan kau.."

doa

Suatu waktu, saat sedang membuka folder2 pribadi di laptop, saya menemukan ini...

sebuah file dengan judul: doa kala ragu akan dirinya

Ya Allah...
Seandainya telah Engkau catatkan
dia akan mejadi teman menapaki hidup
Satukanlah hatinya dengan hatiku
Titipkanlah kebahagiaan diantara kami
Agar kemesraan itu abadi
Dan ya Allah... ya Tuhanku yang Maha Mengasihi
Seiringkanlah kami melayari hidup ini
Ke tepian yang sejahtera dan abadi

Tetapi ya Allah...
Seandainya telah Engkau takdirkan...
...Dia bukan milikku
Bawalah ia jauh dari pandanganku
Luputkanlah ia dari ingatanku
Ambillah kebahagiaan ketika dia ada disisiku

Dan peliharalah aku dari kekecewaan
Serta ya Allah ya Tuhanku yang Maha Mengerti...
Berikanlah aku kekuatan
Melontar bayangannya jauh ke dada langit
Hilang bersama senja nan merah
Agarku bisa berbahagia walaupun tanpa bersama dengannya

Dan ya Allah yang tercinta...
Gantikanlah yang telah hilang
Tumbuhkanlah kembali yang telah patah
Walaupun tidak sama dengan dirinya....

Ya Allah ya Tuhanku...
Pasrahkanlah aku dengan takdirMu
Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan
Adalah yang terbaik buatku
Karena Engkau Maha Mengetahui
Segala yang terbaik buat hambaMu ini

Ya Allah...
Cukuplah Engkau saja yang menjadi pemeliharaku
Di dunia dan di akhirat
Dengarlah rintihan dari hambaMu yang daif ini

----------------------------------------
Jangan Engkau biarkan aku sendirian
Di dunia ini maupun di akhirat
----------------------------------------

Menjuruskan aku ke arah kemaksiatan dan kemungkaran
Maka kurniakanlah aku seorang pasangan yang beriman
Supaya aku dan dia dapat membina kesejahteraan hidup
Ke jalan yang Engkau ridhai
Dan kurniakanlah padaku keturunan yang soleh

Amin... Ya Rabbal 'Alamin

dan entah kebetulan atau bagian dari petunjuk Tuhan.. saya yang memang sedang ragu akan seseorang, dipertemukan dengan doa ini...

dan sekali lagi saya memohon..
perkenankan doa ini..

Amin..
Amin... Ya Rabbal 'Alamin

kamu

petir sambar-menyambar,..
kamu jangan di luar, berdiamlah di dalam..
jangan biarkan aku, dengan seribu prasangka tentangmu..

masih suram..
sisa hujan semalam..
seperti kita.. yang tak juga jumpa ceria
tentang kita, bukan cuma kamu atau saya..

remang..
aku memang tak pintar membaca suasana..
juga apa yang ada dalam benak jiwa
kamu, masih sukses membingungkanku..

dan aku hanya bisa..
menikmati petir, suram dan remang jiwa..
karena kamu penyebabnya..

sial,.
-_-'

kura-kura

adakah yang lebih baik dari seorang gadis tak berpenghasilan, tak juga kunjung mendapat pekerjaan dan barusaja ditinggalkan cita karena jalannya yang lambat dan tak banyak usaha..

ada jugakah yang lebih baik dari seorang gadis yang tak berkeahlian apa-apa, hidup menumpang dimana-mana, masih meminta, dan tak berani menjanjikan hasil yang nyata..

remang..
masa depan seperti masih remang dihadapannya..
ia baru bisa meraba..

dan dia bukan siapa-siapa

seorang gadis dengan pengalaman yang baru "seember", begitu kata kawannya..

hidupnya datar.. standar..
tak berlebih juga tak kurang..

sedikit megap-megap, ia pernah..
tapi ternyata sungai masih dangkal..
orang lain malah sudah bisa menaklukannya..

tak cantik, tak populer, tak ceria, tak pintar bicara..
biasa.. ia terlampau biasa
kadang apatis pikirannya: pantas saja, tak juga bisa ia menangkan hati pria kesayangannya..

kadang lelah...
kadang pasrah..
tapi tak pernah ia punya alasan untuk putus asa..
karena ia pikir, usahanya belum apa-apa..

hanya terlalu lambat..
seperti kura-kura..

maka biarlah, kini sang kura-kura belajar..
meski lemah langkahnya, tetap sampai pada tujuannya..
dan selalu berharap, bisa mengalahkan sang kancil dengan kecerdikannya..

Aku tahu

Aku tahu..
Siapa yang seharusnya aku cintai
Siapa yang berhak menjadi berarti..

Aku juga tahu..
Siapa yang patut kuhargai
Siapa yang hanya bisa menempati setengah hati..

Aku jelas tahu..
Siapa yang mencari muka
Siapa yang menjual simpati saja..

Aku juga pasti tahu..
Siapa yang tulus
Dan siapa yang berakal bulus..

Maka aku,
Tak sembarang buka hatiku
Tak sembarang ikat jiwaku

Kubuat jarak..
Kulonggarkan ikat..
Kuberi ruang untuk curiga
Kubiarkan sedikit prasangka..

Maaf, tapi bukan apa-apa..
Sekedar usaha.. untuk halau kecewa..
Saat keadaan berubah sebaliknya..

Karena semua bisa saja..
Dan aku.. tahu.

Kamis, 25 Februari 2010

sebatas layar

banyak cara mengalihkan dunia
dari sebuah nama yang tak juga pergi dari benak jiwa..
seperti layar kaca
yang selalu sukses menghadirkan beragam sosok indahnya,..

memang keadaan fisik selalu jadi yang pertama
karena indera yang paling cepat menghadirkan gelitik rasa adalah mata..
tapi tak lantas itu jadi yang utama..
ah, setidaknya membuat senyum kembali meronakan muka..

cantik..
tampan..
manis..
indah dipandang..
tak bosan dilihat..
unik..
lucu..

selalu sukses mengalihkan duniaku..
meski barang sejenak..
dan cuma sebatas layar..



terima kasih buat kalian yang setia seliweran di layar kaca:D

dua hati

dalam sudut ruang terdalam jiwaku..
cuma ada kamu,..
kupaksakan mengenyahkanmu..
kurelakan membuang jauh segala tentangmu..
kumohonkan memori berhenti memutar kenanganmu..
tapi nihil..

bukan aku hanya berpangku tangan..
membiarkanmu menggerogoti hati,..
menambah segenggam debu, menjadikannya kerak hingga semakin sukar kubuang..
bukan..
tapi siapa berdaya akan keajaibannya..
hati manusia yang tak pernah bisa sama..
dua detik ke depan siapa yang tahu aku bisa tiba-tiba membencimu..

sudah kucoba dengan segala cara..
sama.. seperti usahamu mengabaikannya..
akupun begitu..

maka..
saat keinginan sekedar bersama ternyata tak cukup puas meredakan gelisah ini..
dan kulihat tak ada celah untuk berharap lagi..
kubiarkan hati ini mendua..

biar..
biar terbagi rasa ini..
hingga untukmu habis..
habis sehabis-habisnya..

setidaknya masih ada dia yang bisa menghadirkan senyum jingga di sore hariku
saat kau tak lagi bisa mencerahkan malam di hatiku

Selasa, 23 Februari 2010

ilalang

bertemu kembali dengan saya...
sudah lama tak bersua..
apa kabar..?

ahh..
padahal baru kemarin bertemu.. bukan kangen, cuma iseng aja.. sekaligus mengetes respon hati akan segala sesuatu tentangmu..
masih sama, meski sudah banyak berkurang porsinya..

kemarin ilalang memanggilku..
cuma dia yang mengerti, dan bisa sedikit mengobati perihku..
berjalan di tepinya.. melihatnya menari.. mengamati serbuk2nya yang tertiup angin,..
sambil terus membiarkan mata ini mengurai semua beban hati..

puas..
dan semuanya menjadi lebih jelas..

lelah hati.. melihat kau yang perlahan namun pasti berlari ke arahnya..
dan aku yang hanya bisa terdiam pada tempatku..
tak ingin mundur dan tak juga bisa maju ke arahmu..

maka..
biarlah ini kujadikan sebagai usaha terakhir..
dalam menutup perjuanganku..

kamu.. takkan kugenggam lagi...




maka terbanglah... ilalangku.. -_-

Rabu, 03 Februari 2010

Dunia Rasa dalam Kata: cemburu

Dunia Rasa dalam Kata: cemburu

cemburu

beberapa kali sempat bertukar pikiran dan meminta pendapat beberapa orang terdekat..
sedikit harapan tercipta dari sana, bahwa aku mungkin saja memang yang diinginkannya.. tapi sedetik kemudian, jika kupikir bagaimana ia sesungguhnya.. hffftt imposible!

setelah sempat berulang kali berpikir.. untuk tak lagi memainkan perasaan dan mulai menilai semua ini dengan akal, pertimbangan dan logika.. ternyata cukup membantu, sedikit membuat nyaman hati ini.. tapi, ahh.. kenapa pula mesti pakai "tapi".. adakalanya lagi-lagi hati terusik kembali, hanya karena perasaan "cemburu".. hufff.. sial.. kenapa pula mesti berakrab ria dengan kata itu...

aku memang pencemburu,, berat bisa dibilang...
jangankan kekasih, bahkan sahabat sekalipun bisa kucemburui, hanya karena sahabatku lebih dekat dengan temannya yang lain, atau saat aku sedang membutuhkannya, tapi ia malah lebih memilih bersama yang lain, dengan alasan apapun itu aku bisa cemburu berat, meski tidak selalu kuungkapkan..
perasaan tak dianggap.. ya, aku sensitif berat akan hal itu..

juga yang ini...
ahh... kenapa mesti cemburu karena dia..
menyebalkan..!!!

Minggu, 31 Januari 2010

CHARGER

baru saja hampir kehilangan sesuatu yang amat berharga bagiku.. yang sudah empat tahun terakhir menemaniku,, mewarnai hari-hariku.. menyampaikan kabar gembira, memberikan pelajaran lewat berita buruk yang disampaikannya, membantuku melewati hari-hari sepi, dikala bosan, sedih, gelisah ia selalu ada dan setia di sisiku.. yang tak pernah mengeluh meskipun aku sempat mengabaikannya, bahkan sering.. sering kali aku lupa untuk memenuhi haknya.. tapi ia tetap setia.. tetap setia menjadi milikku..

kemarin, hampir saja ia pergi..
tak tahu mengapa tiba-tiba ia mogok bicara.. padahal setahuku aku baru saja memenuhi haknya. penuh. tapi, ia seperti sudah kehabisan energi untuk bertahan.. meskipun ia terlihat tetap berusaha ada untukku, tapi keadaannya tak sebaik sebelumnya.. ia melemah, tak kuat bertahan.. tak tega terus melihatnya seperti itu.. lalu.. akupun memberinya kesempatan untuk beristirahat..

switch off

hfftt...

satu malam tanpanya.. bukan karena aku ingin, tapi karena ia tak kuat bertahan.. sempat terpikir untuk mencari penggantinya, tapi, tiba-tiba terlintas ucapanku bertahun-tahun lalu.. aku tidak akan menggantinya dengan yang lain, sampai ada seseorang yang sangat berarti dalam hidupku yang menukarnya dengan yang lain.. sementara orang tersebut masih tak kunjung datang, dan butuh waktu yang tidak sebentar untuk menunggunya. saat itu, aku hanya bisa merutuki diri sendiri, atas ucapanku yang sembarang itu, bagaimana bisa membiarkannya selama itu bertahan di sisiku.. ah sudahlah... aku pasrah...

kucoba untuk menolongnya kembali, memberinya energi, siapa tahu memang ia sudah tak bisa menyimpan energinya dengan baik, kumasukan sebuah alat isi ulang energi.. kuhubungkan pada saluran listrik.. dan kutunggu hingga ia terisi penuh..

charger

setelah kutahu energinya terisi penuh, kucoba menghidupkannya kembali..

switch on

dan
VOILA..
menyala... ia hidup kembali..

kuperiksa setiap organ, apakah fungsinya masih berjalan dengan baik..

alhamdulillah..
semuanya kembali seperti semula..

^__^

senangnya..
senangnya ia kembali, kembali untukku.. :D

ah,, aku berjanji, setelah kejadian ini, aku akan setia menjaganya, seperti ia yang selalu setia berada di sisiku.. menjadi saksi bisu perjalanan hidupku..

aku akan menjagamu, sampai waktumu berhenti.. berhenti bertahan untukku..
atau.. sampai seseorang menukarkan dengan yang lebih baik..
untuk menggantikan peranmu..

ah bagaimana pun nanti..
terima kasih atas jasamu selama ini...

SONY ERICSSON T 620

LUV U...

*saking sepuhnya, tak kutemukan gambarmu di om google,, hiks..

Sabtu, 23 Januari 2010

tak selalu soal rasa

Tak sepenuhnya soal rasa ternyata..
benar kubilang, keinginan untuk memiliki..
tapi itu lintasan pikiran..hanya lintasan pikiran..
yang selanjutnya kupaksa-paksa untuk menetap di benakku..
meracuni sel otakku..
yang kemudian saat satu hal menyulut..
emosi dengan lancang membangkitkan sentimentil diri..

baiklah..
kujelaskan saja..

moment yang tepat, dan adanya eliminasi membuatku saat itu dengan mudah membiarkannya masuk..
padahal, mungkin saja ia tak bermaksud.. bisa saja cuma ingin sekedar menyapa..
tapi, yah... lagi-lagi waktu seolah membodohiku.. atau aku yang membodoh-bodohi waktu..
ia datang pada saat yang tepat..

dan kini.. maksud hati selalu berubah tiap waktunya..
kadang hanya ingin bersama, sekedar melepas lelah.. mengisi kekosongan hati..
kadang bahkan.. ya itu.. ingin memiliki..
kadang juga.. malah ragu.. sudah benarkah pilihanku.. untuk inginku yang manapun itu..


kadang bilang ini cinta..
kadang hanya ingin memenuhi rasa penasaran saja..
kadang merasa jadi sahabat saja..

ah selalu begitu..
dan ternyata memang tak selalu soal rasa..
bisa jadi malah lebih dari itu semua,,
hmmpphh..
kita lihat saja..

Senin, 18 Januari 2010

sungai

pernah saya terjebak dalam putaran arus sungai yang menenggelamkan
membuat saya megap-megap kehabisan nafas..
meski berhasil bertahan pada satu dahan kayu yang hanyut..
tapi tak kuat juga, dan saya pun kembali tenggelam..
begitu seterusnya..

tapi kemudian, atas waktu yang telah menemui tenggatnya..
saya bangkit dan keluar dari sungai mematikan itu..

sebuah tali penolong terulur..
tubuh saya terangkat, lalu lelah membuat saya berbaring..
mengatur nafas, menghirup dalam-dalam energi untuk berjuang kembali..
pada sungai yang sesungguhnya ingin saya taklukan..!
bukan akhir, melainkan permulaan..
meski harus dimulai dengan kekalahan..

terik matahari membuat saya tertantang kembali, untuk mengarunginya..
kepada sungai yang telah membuat saya tenggelam..
untuk menaklukannya pelan-pelan..

akhirnya, arus sungai mulai tenang..
saya tahu, dibalik ketenangan itu tidak berarti aman..
lalu saya bersiap waspada..
dan kembali menaiki perahu untuk mengarunginya ..

ahh.. sejenak terlena..
dengan ketenangan arus ini..
membuat saya bisa menikmati pemandangan sekitar..
memasuki alam yang tak terjamah sebelumnya.
ada kenyamanan merasuki..
meski tak tahu kemana arus sungai membawa saya..

yang jelas, harus tetap berhati-hati..
karena bisa saja ia kembali menenggelamkan saya
atau bahkan menjatuhkan saya pada jurang yang dalam..

ahh.. itu kan nanti..
sejauh mata memandang masih terasa aman terkendali..
kini saya dan sungai mulai bersahabat..
sampai akhirnya saya tahu kemana tujuan saya..
lalu memutuskan untuk terus mengarunginya ..
atau naik ke daratan dan mencoba menaklukan tantangan yang lainnya..

kita lihat saja nanti..^_~

Senin, 11 Januari 2010

pintu

seorang teman pernah berujar pada saya, saat saya memutuskan untuk menuntaskan sesuatu yang dianggap seseorang sebagai 'permainan'. teman saya berujar begini.."jangan terpaku pada satu pintu yang tertutup, sampai kamu mengabaikan pintu2 lain yang terbuka untukmu.."

lalu saat itu saya bukannya berpikir pada pintu2 lain, yang terlintas di benak saya hanyalah bagaimana agar saya tak lagi menengok ke arah pintu dan menikmati tempat saya berada.. toh disini juga banyak yang indah..

yah.. berteori, berjanji pada diri sendiri, itu mudah.. tapi realita selalu membuat saya seolah menjilat ludah saya kembali,. apa yang saya rasa, apa yang saya punya, tetap masih bersisa..

selalu tak pernah menjadi hal yang mudah..
mengabaikan pintu yang tertutup dan mencoba sedikit saja melirik pada pintu yang terbuka dengan lebarnya dan melihat apa yang ada di dalamnya, siapa tahu lebih baik..
pintu yang tertutup, jelas lebih menantang untuk diketahui, apa sebab ia tertutup, bisakah ia diketuk atau bahkan dibuka dengan paksa,...

jadi, jangan paksa saya untuk tak kembali melirik pada pintu yang tertutup itu..
dan berdo'a, mudah-mudahan saja sang pemilik lupa menguncinya..

haha,..

Jumat, 08 Januari 2010

suatu hari.. saya pernah menulis ini..

suatu hari, saya pernah menulis ini :

Yang bisa saya tulis baru sebatas ini.
Gundah yang saya rasakan, kepahitan yang saya alami, dan keresahan yang selama ini terabaikan.
Karena dengan menulisnya semua yang belum tersampaikan bisa tersampaikan. Semua yang belum dimengerti bisa dimengerti. Semua yang masih buram bisa menjadi jelas. Jadi, jangan paksa saya untuk menulis yang tidak bisa saya tulis. Jangan juga memaksa untuk menulis yang tidak ingin saya tulis. Maka saya akan menulis dengan tema dan maksud yang saya tentukan sendiri. Saya baru bisa sampai tahap ini. Masih harus banyak belajar lagi..
Sekian dan terima kasih.

its a fact about me..

Dare to be different..!
A different side of me
Not like u or them..
Just like me.
And it’s the real me..!
Have no special thing..
Just ordinary..!
Gak bisa apa2..
Males..!
Gampang terpengaruh..
Gak bisa ngendaliin perasaan..
Susah konsentrasi..
Gak bisa focus pada satu hal yang harusnya jadi tanggung jawabnya..
Gak bisa tegas bilang enggak atau iya..!
Plin-plan
Jorok..
Gak peduli…
Kurang empati..
Gampang berprasangka
Suka ngehayal dan bpikir terlalu jauh
Gampang ngejudge orang.. tp gampang juga mencabut judgementnya itu (tuh kan plin-plan itu namanya !)
Pelupa..!
Susah nyimpen kata2 di otak..jdinya kadang saat mau nulis suka bingung cari kata2 yang pas untuk mewakili maksud tulisan.. (tuh kan nulis kalimat barusan aja mikir lama dulu buat nyari kata2nya!). dan buat ngomong juga kaya gitu. Gak cocok buat ngomong banyak di depan orang.. apalagi spontan..hmm..speechless..itu ya istilahnya ?
Dikit2 pake koma.. padahal gak perlu !
Menunda2 urusan yang seharusnya segera diselesaikan..
Deelel…

Gw banyak banget ya kekurangannya. Dasar manusia !
Hiks.. ini gwnya yang gak bersyukur, atau belum sadar aja kalo gw itu sebenernya punya banyak kelebihan juga..
Halah.. penting gitu dibahas ?

Gw ga bisa buat tulisan yang bagussssssssssssssss…!!!!!!
Haduh2 belum apa2 udah nyerah..!, jangan Cuma karena ngeliat tulisan orang lebih bagus trus jd pesimis gak bisa buat tulisan bagus. Semua udah ada waktunya, tunggu aja..
Seperti kata seorang kawan yang sangat baik yang sudi mendoakan : dear qisthi, you will be a good writer someday..

Dan mari teriak kencang..
AMIIIIIIIIIIIIIIIN…!!!!!!!!!!

dan sekarang, saya hanya bisa tersenyum saat membacanya kembali :D
Related Posts with Thumbnails